BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fisika
sebagai induk mekanika-mekanika. Fluida, hidrolik, alat berat memerlukan
pengukuran-pengukuran yang sangat teliti agar gejala yang dipelajari dapat
dijelaskan (dan bisa diramalkan) dengan akurat. Sebenarnya pengukuran tidak
hanya mutlak bagi fisika, tetapi juga bagi bidang-bidang ilmu lain termasuk
aplikasi dari ilmu tersebut. Dengan kata lain, tidak ada teori, prinsip,
maupun hukum dalam ilmu pengetahuan alam yang dapat diterima kecuali jika
disertai dengan hasil-hasil pengukuran yang akurat.
Praktikum
Fisika Dasar ini bertujuan untuk penunjang mata kuliah bidang Fisika Dasar. Praktikum
ini dilaksanakan di Laboratorium Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
IAIN Mataram. Pada praktikum ini dilakukan beberapa praktikum yaitu Praktikum
pengukuran (jangka sorong dan micrometer sekrup), praktikum bandul matematis,
praktikum hukum hooke dan praktikum multimeter.
Pengukuran
merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Alat yang digunakan
untuk mengukur ada banyak, diantaranya jangka sorong dan mikrometer sekrup.
Percobaan ini dilakukan agar kita dapat membandingkan tingkat ketelitian
mikrometer sekrup, jangka sorong dan
mistar. Sedangkan bandul matematis adalah salah satu bandul yang bergerak mengikuti
gerak harmonik sederhana. Bandul matematis merupakan benda ideal yang terdiri
dari sebuah titik massa yang digantungkan pada tali ringan yang tidak bermassa.
Dalam
kehidupan kita sering menggunakan hukum-hukum fisika untuk membantu kita dalam melakukan
banyak hal. Salah satu hukum yang sering dipakai yaitu hukum hooke, yaitu hukum
yang digunakan untuk mencari besar konstanta pada pegas dengan memperhitungkan
pengaruh dari gaya yang diberikan pada benda dan massa benda itu sendiri.
Untuk Praktikum multimeter
sendiri dilakukan agar dapat memahami cara menentukan hambatan dengan hukum
Ohm. Misalnya kita bisa menghitung berapa tegangan dari suatu baterai, bisa
menghitung hambatan suatu baterai.[1]
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas,
maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan dalam praktikum ini sebagai
berikut:
1. Bagaimana
mempelajari kegunaan alat ukur panjang dengan ketelitian tinggi (
jangka sorong).
2. Bagaimana
mempelajari kegunaan alat ukur ketebalan suatu benda tipis dengan ketelitian
tinggi ( mikrometer
sekrup)
3. Bagaimana
cara menentukan besar percepatan gravitasi pada bandul matematis
4. Bagaimana
menentukan konstanta kekuatan pegas berdasarkan Hukum Hooke.
5. Bagaimana
besarnya hambatan dalam pada suatu baterai.
6. Bagaimana
memahami asas
kerja ayunan matematis dan getaran selaras.
7. Bagaimana
penggunaan multimeter digital
C. Tujuan Praktikum
Adapun
tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini sebagai berikut:
1.
Untuk mempelajari kegunaan alat ukur
panjang dengan ketelitian tinggi (jangka sorong).
2. Untuk mempelajari
kegunaan alat ukur ketebalan suatu benda dengan ketelitian tinggi (mikrometer sekrup).
3.
Untuk memahami dan menentukan besar
percepatan gravitasi.
4. Untuk menentukan
konstanta kekuatan pegas berdasarkan Hukum Hooke.
5.
Untuk menentukan besar hambatan dalam pada
suatu baterai dengan pendekatan persamaan tegangan jepit.
6. Untuk memahami
asas kerja ayunan
matematis dan getaran selarasnya.
7. Untuk memahami
jenis-jenis dan penggunaan multimeter.
D. Manfaat Praktikum
Adapun Manfaat praktikum sebagai berikut:
1.
Bagi mahasiswa (praktikum)
a.
Mahasiswa dapat memahami cara membaca skala dalam penggunaannya dan
menentukan besarnya suatu besaran fisis yang dapat diukur dengan jangka sorong
b.
Mahasiswa dapat memahami cara membaca skala dalam
penggunaannya dan menentukan besarnya suatu besaran fisis yang dapat diukur
dengan mikrometer sekrup.
c.
Mahasiswa dapat memahami dan menentukan besar dan percepatan gravitasi
d.
Mahasiswa dapat memahami azaz kerja ayunan matematis dan getaran selaras
e.
Mahasiswa dapat menentukan besarnya konstanta pegas dengan metode osilasi
dan perubahan panjang pegas
f.
Mahasiswa dapat memahami konsp hukum hooked an elastisitas pegas.
g.
Mahasiswa dapat menentukan besarnya hambatan dalam suatu baterai dengan
pendekatan persamaan tegangan jepit.
h.
Mahasiswa dapt memahami jenis-jenis dan penggunaan multimeter.
2.
Bagi Asisten /
Pembimbing
a.
Menambah pengalaman belajar mengajar
b.
Memperdalam ilmu sekaligus
mengulang atau memuthalaah ilmunya
c.
Belajar membimbing dan mengajar
d.
Melatih kesabaran dan belajar dari kesalahan.
3. Bagi
Laboran (Pengelola Laboratorium).
a. Pengelola
laboratarium dapat mengaktifkan saran dan sarana laboratarium sesuai dengan
aturan di jurusan pendidikan matematika.
b. Pengelola
labaratarium dapat mengetahui mahasiswa yang memiliki kemampuan intelektual
yang tinggi dan yang memiliki kemampuan di kegiatan praktikum di laboratarium
di Jurusan Pendidikan Matematika.bidang sains.
c.
Pengelola
laboratarium dapat mengadakan silaturrahmi dengan mahasiswa selama praktikum.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengukuran
1.
Mistar
a.
Pengertian
Mistar dan meteran
merupakan alat ukur yang digunkan untuk mengukur besaran panjang.
b.
Jenis – Jenis Mistar
1)
Penggaris
Penggaris merupakan alat ukur panjang dan alat bantu gambar
untuk menggambar garis lurus. Alat ukur yang satu ini banyak sekali digunakan
secara universal, baik untuk keperluan pengukuran atau hal lainnya, Pada
umumnya, mistar memiliki skala terkecil 1 mm atau 0,1 cm. Mistar mempunyai ketelitian
pengukuran 0,5 mm, yaitu sebesar setengah dari skala terkecil yang dimiliki
oleh mistar.
2)
Meteran gulung
Meteran gulung atau Rollmeter merupakan alat ukur
panjang
yang
dapat digulung, dengan panjang 25 – 50 meter.
Ketelitian pengukuran dengan rollmeter 0,5 mm. Meteran ini
biasanya dibuat dari plastik atau pelat besi
tipis.
3)
Mistar pita
Mistar pita adalah alat yang digunakan
untuk mengukur panjang suatu benda, hanya saja bentuknya yang berbentuk pita,
fungsi dibuatnya mistar berbentuk pita adalah agar memudahkan mengukur diameter
suatu benda yang ukurannya besar. Mistar berebntuk pita ini sering digunkan
oleh tukang jahit pakaian, untuk mengukur diameter lingkaran lengan maupun
pinggang manusia. Mistar pita ini memiliki panjang tidak kurang dari 2 m. Bahan
yang sering digunakan untuk mistar pita ini adalah karet dengan warna yang
berfariasi.
4)
Mistar lipat
Selain yang bisa digulung dan berbentuk pita, ada juga mistar
yang bisa dilipat atau sering disebut sebagai mistar lipat. Mistar lipat ini ditemukan
oleh Anton Ullrich pada 1851. Mistar lipat ini digunakan oleh tukang kayu, akan
tetapi sekarang mistar seperti itu jarang ditemukan karena sudah ada mistar rol
yang lebih praktis.mistar ini memiliki fungsi mengukur panjang
suatu benda, sama seperti fungsi mistar pada umumnya.
2.
Jangka sorong
a.
Pengertian
Jangka
sorong adalah suatu alat ukur panjang yang dapat dipergunakan untuk mengukur
panjang suatu benda dengan ketelitian hingga 0,1 mm.[2]
Jangka sorong memiliki beberapa
bagian, yaitu rahang atas yang berfungsi untuk mengukur diameter dalam. rahang bawah berfungsi untuk mengukur
diameter luar.
. Pengunci berfungsi untuk mengunci suatu benda agar benda dapat diapit dan
tidak perpindah-pindah[3].
b.
Jenis-jenis jangka sorong
Adapun jenis-jenis jangka sorong
yang dapat digunakan untuk mengukur panjang adalah sebagai berikut:
1) Jangka sorong manual dengan
ketelitian 0,1mm = 0,01 cm
2) Jangka sorong analog dengan
ketelitian 0,05 mm = 0,005 cm
3) Jangka sorong digital dengan
ketelitian 0.01 mm = 0,001 cm
c.
Penggunaan
1.
Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit
2. Untuk
mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa, maupun lainnya)
dengan cara diulur.
3. untuk mengukur kedalamanan
celah/lubang pada suatu benda
dengan cara menancapkan / menusukkan bagian pengukur.
d.
Cara penggunaan
Cara
menggunakan jangka sorong adalah sebagai berikut :
1.
Mengukur
panjang benda
Untuk mengukur panjang benda dapat dilakukan dengan
langkah berikut :
Geser rahang geser jangka sorong
sedikit kekanan sedemikian sehingga benda yang akan diukur
dapat masuk diantara kedua rahang. Geser rahang geser kekiri sehingga benda tepat terjepit
oleh kedua rahang.
2.
Mengukur ketebalan
benda
Untuk mengukur ketebalan benda dapat dilakukan dengan
langkah berikut :
Geser rahang geser jangka sorong
sedikit kekakan sehingga benda yang akan diukur ketebalannya dapat masuk diantara
kedua rahang. Geser rahang
geser kekiri sehingga benda terjepit oleh kedua rahang.
3.
Mengukur
diameter dalam benda
Untuk mengukur diameter dalam suatu benda dapat dilakukan
dengan langkah berikut :
Menggeser rahang geser jangka sorong
sedikit kekanan
benda yang akan diukur sedemikian sehingga
kedua rahang jangka sorong masuk kedalam benda tersebut. Geser rahang
geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh kedua
dinding dalam benda.
4.
Mengukur
diameter luar benda
Untuk mengukur diameter luar benda dapat dilakukan dengan
langkah berikut :
Menggeser rahang jangka sorong kekanan
sehingga benda
yang diukur
dapat masuk diantar kedua rahang. Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang. Geser rahang
geser kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur terjepit oleh kedua rahang.
5.
Mengukur
kedalaman benda
Untuk mengukur kedalaman suatu benda dapat dilakukan
dengan langkah berikut :
Letakkan benda
atau tabung yang akan diukur dalam posisi tegak Putar jangka sorong yang dalam keadaan
tegak kemudian
letakkan ujung jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya. Geser rahang
geser kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong mengenai dasar tabung.
e.
Rumus dan keterangan
Persamaan
untuk jangka sorong adalah sebagai berikut:
X = Su +
Sn
Dengan:
Su= skala utama
Sn= skala nonius
3.
Mikrometer Skrup
a. Pengertian
Mikrometer sekrup merupakan alat
yang biasa digunakan untuk mengukur ketebalan benda-benda yang tipis seperti
kertas, uang logam, mistar dan sebagainnya, alat ini juga lebih teliti sepuluh
kali dari jangka sorong yaitu sampai 0,01 mm. Bagian utama mikrometer sekrup
adalah poros berulir, dipasang pada silinder pemutar atau bidal. Keliling
silinder pemutar dibagi menjadi 50 bagian dengan skala yang sama besar. Bidal
akan bergerak maju 0,5 mm jika diputar satu kali putaran, dengan demikian jika
bidal diputar satu skala, maka akan bergeser
= 0,01 mm atau 0,001 cm[4].
Mikrometer
terdiri atas 2 skala, yaitu:
1)
Skala tetap
Skala
tetap terbagi satuan (mm), skala ini terdapat pada laras dan terbagi dua skala yaitu skala atas dan skala
bawah.
2)
Skala putar
Skala
ini terdapat pada besi penutup laras yang dapat berputar 360 derajat dapat bergeser ke depan atau ke
belakang. Skala putar dibagi
menjadi 50 skala atau bagian sama yaitu 1 kali putaran skala putar akan bergeser 0,5 mm ke depan atau
ke belakang, maka setiap kita
memutar skala 0,5/50 x 1 mm atau sama
dengan 0,01 mm. Cara menggunakan
mikrometer sekrup.[5]
b.
Jenis-jenis micrometer sekrup.
Mikrometer
memiliki 3 jenis umum pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi berikut
yaitu:
1.
Mikrometer Luar
Alat ukur yang dapat mengukur dimensi luar dengan cara
membaca jarak antara dua muka ukur sejajar yang berhadapan, yaitu sebuah muka
ukur tetap yang terpasang pada satu sisi rangka berbentuk U, dan sebuah muka
ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat bergerak tegak lurus
terhadap muka ukur, dan dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang mempunyai
graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle. Mikrometer luar digunakan untuk
ukuran memasang kawat, lapisan-lapisan, blok-blok dan batang-batang.
2.
Mikrometer dalam
Alat
ukur yang dapat mengukur dimensi dalam dengan cara membaca jarak antara dua
muka ukur sferis yang saling membelakangi, yaitu sebuah muka ukur tetap yang
terpasang pada batang utama dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada
ujung spindle yang dapat bergerak searah dengan sumbunya, dan dilengkapi dengan
sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan
spindle. Mikrometer sekrup dalam digunakan untuk mengukur garis tengah dari
lubang suatu benda.
3.
Mikrometer kedalaman
Mikrometer
kedalaman digunakan untuk mengukur kerendahan dari langkah-langkah dan
slot-slot.
c.
Penggunaan
1.
Mikrometer sekrup biasa digunakan untuk mengukur ketebalan
suatu benda. Misalnya tebal kertas. Selain mengukur ketebalan kertas.
2.
Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter kawat
yang kecil.
d.
Cara penggunaan
Untuk menggunakan micrometer sekrup dapat dilakukan dengan
langkah berikut :
1.
Putar bidal (pemutar) berlawanan arah dengan arah jarum jam
sehingga ruang antara kedua rahang cukup untuk ditempati benda yang akan
diukur.
2.
Letakkan benda di antara kedua rahang.
3.
Putar bidal (pemutar) searah jam sehingga saat poros hamper menyentuh benda, pemutaran dilakukan
dengan menggunakan roda bergigi agar poros tidak menekan benda. Dengan memutar
roda berigi ini, putaran akan berhenti segera setelah poros menyentuh benda.
Jika sampai menyentuh benda yang diukur, pengukuran menjadi tidak teliti.
4.
Putar sekrup penggeser hingga terdengar bunyi klik satu
kali.
5.
Baca hasil pengukuran pada skala utama dan skala nonius
e.
Rumus dan keterangan
Hasil
pengukuran pada skala utama dan skala nonius dapat ditentukan dengan rumus :
X
= Su + (Sn x ketelitian)
Dengan :
Su= Skala utama
Sn= Skala
nonius
B. Bandul Matematis
Matematis
adalah sebuah benda yang digunakan pada tali ringan yang mempunyai panjang
tetap. Bandul matematis adalah salah satu sistem fisis yang bergerak mengikuti
gerak harmonik sederhana. Bandul matematis adalah bandul ideal yang terdiri
dari sebuah titik massa yang digantungkan pada tali ringan yang tidak mulur dan
tidak bersama. Bila bandul disimpangkan dengan sudut (α) dari posisi setimbang
lalu dilepaskan, maka bandul akan berayun pada bidang vertikal karena pengaruh
gaya gravitasi bumi[6].
Bandul Pada bandul terdapat gerak
osilasi. Gerak osilasi adalah gerak bolak-balik suatu benda yang apabila
disimpangkan dengan sudut Alpha (α) kemudian benda tersebut dilepaskan maka
akan berayun dalam bidang vertikal dan akan kembali ke titik awal karena pengaruh
gaya gravitasi.
Pada bandul terdapat gerak osilasi
adalah variasi periodik umumnya terdapat waktu dari suatu hasil pengukuran
istilah vibrasi sering digunakan sebagai sinonim osilasi, walaupun sebenarnya
vibrasi menunjuk pada jenis spesifik osilasi mekanisme. Osilasi tidak hanya
terjadi pada suatu sistem fisik, tetapi juga pada sistem biologi dan bahkan
dalam masyarakat. Contoh gerak osilasi (getaran) adalah gerak osilasi bandul.
Bandul matematis (sederhana) terdiri dari seutas tali ringan dan sebuah bola
kecil (bola bandul) mermassa m yang digantungkan pada ujung tali. Dalam
menganalisis gerakan bandul matematis, gaya gesekan udara kita abaikan dan
massa sangat kecil sehingga dapat diabaikan relatif terhadap bola[7].
Gerak harmonik atau getaran selaras adalah gerak bolak balik secara periodik di
sekitar kedudukan seimbang.[8]
Periode (T) adalah waktu yang di butuhkan untuk melakukan suatu geratan
frekuensi (F) atau bilangan getar adalah banyak geratan tiap detik. Secara
matematis dirumuskan dengan persamaan:
|
T =
|
|
g =
|
atau
Dengan:
T
= periode ( s )
l
= panjang tali ( m )
g
= percepatan gravitasi ( m /s )
Hubungan
antara periode dengan frekuensi adalah
|
f =
|
|
T =
|
atau
Dengan
:
f
=
frekuensi (Hz)
T=
periode (sekon)
Berdasarkan
persamaan diatas, tampak bahwa periode dan frekuensi getaran pendahuluan
sederahana bergantung pada panjang tali dan percepatan gravitasi. Karena
percepatan gravitasi bernilai tetap, maka periode sepenuhnya hanya bergantung
pada panjang tali (L). Dengan kata lain, periode dan frekuensi pendulum tidak
bergantung pada massa beban alias bola pendulum.[9]
Jika
sebuah bandul berayun pada suatu titik tetap (titik seimbang) simpangannya
dapat membesar dan mengecil secara berulang-ulang. Simpangan terbesar dari
ayunan tersebut disebut ampluida. Ampluida adalah simpangan terbesar dari suatu
getaran.
Pada
dasarnya setiap benda di dalam melakukan getaran-getaran yang di sebut getaran
alami, getaran setiap benda tidak selalu bisa di amati menggunakan mata melalui
getarannya. Apabila simpangan getaran atau amplitudo getaran sangat kecil maka
gerakan tidak teramati oleh mata. Berat benda adalah gaya tarik gravitasi yang
di alami benda tersebut (gravitasi bumi selalu berarah tegak lurus kebawah)
tegangan dalam tali adalah gaya tarik tali pada sebuah benda terikat pada tali
tersebut[10].
Penggunaannya yaitu Jika sebuah benda yang digantungkan
pada seutas tali, diberikan simpangan, lalu dilepaskan, maka benda itu akan
berauyn kekanan dan ke kiri. Berarti ketika benda berada disebelah kiri akan
dipercepat kekanan, dan ketika benda sudah ada disebelah kanan akan diperlambat
dan berhenti, lalu dipercepat kekiri dan seterusnya. Dari gerakan ini dilihat
bahwa benda mengalami percepatan selama gerakan nya. Menurut hukum Newton (F =
m.a) percepan hanya timbul ketika ada gaya. Arah percepatan dan arah gaya
selalu sama.
C. Hukum Hooke
Pegas merupakan salah satu contoh benda elastis. Elastis atau
elastisitas adalah kemampuan sebuah benda untuk kembali ke bentuk awalnya
ketika gaya luar yang diberikan pada benda tersebut dihilangkan. K adalah
konstanta dan x adalah simpangan. Tanda negatif menunjukkan gaya pemulih F
mempunyai arah berlawanan dengan simpangan x. Hukum ini dicetuskan oleh Robert
Hooke (1635-1703)[11].
Besar gaya yang diberikan pada benda
memiliki batas-batas tertentu.jika gaya sangat besar maka regangan benda sangat
besar sehingga akhirnya benda patah. Pemberian
gaya sebesar F pada beban menyebabkan
pegas mengalami perubahan pannjang sebesar x. Gaya ini akan diimbangi oleh
adanya gaya pengembali pada pegas atau dapat dinyatakan bahwa besarnya gaya
pengembali yang dialami oleh pegas
berbanding lurus dengan pertambahan panjang pegas (rentangannya). Pernyataan
ini dikenal sebagai hukum Hooke. Secara matematis pernyataan Hooke dapat
ditulis:[12]
|
|
Dimana: F = gaya pengembali (N)
k = konstanta pegas(N/m)
=
regangan pegas
Jika
sebuah benda direngangkan, maka pegas akan menarik balik dengan gaya F (gaya
pemulih) yang berbanding lurus dengan renggangan tersebut. Demikian pula jika
dipasangkan benda pada pegas tersebut, kemudian dlepaskan maka benda akan
begerak bolak-balik. Setelah diberi beban sebesar m, dan pegas kita getarkan
yaitu dengan cara menarik pada jarak tertentu lalu dilepaskan, maka waktu getar
getaran selaras pegas atau periode dirumuskan:
|
|
|
T =
|
atau
Dimana:
f=frekuensi
T=Periode
m=massa beban
k=konstanta pegas
Dalam menentukan suatu
konstanta pegas dan simpangan pada gerak harmonik, ada beberapa istilah yang
perlu diketahui terlebih dahulu, misalnya periode dan frekuensi. Periode adalah
waktu yang diperlukan untuk melakukan satu kali bolak-balik. Sedangkan
frekuensi adalah banyak gerak bolak-balik sehingga didapatkan persamaan:[13]
|
T
=
|
|
f =
|
atau
Dimana :
f = frekuensi (Hz) T= periode
(sekon)
D. Hambatan dalam Baterai
Baterai merupakan salah satu komponen elektronika
yang dapat mensuplai tegangan listrik (DC). Meskipun demikian suatu sumber
tegangan maupun sumber arus listrik tetap memiliki hambatan di dalamnya atau
sering disebut dengan hambatan dalam. Hambatan dalam suatu sumber tegangan
listrik (baterai) dapat diukur (diuji) melalui prinsip hukum Ohm.[14].
Hambatan dalam baterai adalah suatu hambatan yang
dimiliki dan memang berada di dalam baterai itu sendiri. Hambatan dalam
baterai juga merupakan suatu halangan yang selalu ada untuk muatan yang
mengalir bebas di dalam elektrolit antara elektroda-elektroda baterai[15]. Rangkaian terbuka adalah suatu rangkaian listrik yang memiliki ujung-ujung
rangkaian. Rangkaian tertutup adalah suatu rangkaian listrik yang tidak
memiliki ujung rangkaian arus listrik (I), terus mengalir hingga tegangan (V)
habis. secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
|
|
|
|
|
|
Dimana:
E = sumber tegangan baterai (volt)
I = arus listrik yang timbul dalam rangkaian (mA)
V =
tegangan luar atau tegangan jepit (volt)
r =
hambatan dalam baterai (ohm)
Rv =
hambatan variable (ohm)
Dengan demikian besarnya hambatan dalam baterai
dapat dinyatakan dengan:
|
|
Jenis-jenis jangka sorong
Penggunaan
Cara penggunaan
Rumus dan keterangan
E. Penggunaan Multimeter
1.
Pengertian
Ammeter digunakn untuk mengukur arus, dan voltmeter
untuk mengukur beda potensial atau tegangan. Bagian yang paing penting dari
ammeteratau volt meter analog, dimana pembacaan ditujukkan dengan jarum
penunjuk pada suatu skala, adalah galvanometer. Galvanometer bekerja dengan
prinsip gaya anatara medan magnet dan kumparan kawat pembawa arus. Untuk saat
ini kita perlu mengetahui penyimpangan jarum galvameter sebanding dengan arus
yang melewatinya. Sesitivitas arus skala_penuh, Im, dari sebuah
galvanometer merupakan arus yang dibutuhkan agar jarum menyimpang dengan skala
penuh. Jika sensitivitas Im adalah 50
A , arus sebesar 50 µA akan menyebabkan
jarum bergerak ke ujung skala.Arus 25 µA akan menyebabkannya menyimbpang
setengah skala penuh. Jika tidak ada arus, jarum seharusnya berada diangka 0 ,
dan biasanya ada sekrup penyesuai untuk membuat situasi seperti itu.
Banyak
meteran yang kita lihat sehari-hari yang merupakan galvanometer yang terhubung
ke ammeter atau voltmeter seperti sejumlah metern pada panel instrumen mobil.
Galvanometer
dalat digunakan langsung untuk mengukur arus dc yang kecil. Sebagi contoh ,
galvanometer dengan sensitifitas Im 50 µA dapat mengukur arus dari
sekitar 1 µA ( arus yang lebih kecil dari ini akan sulit terbaca pada skala)
sampai 50 µA. Untuk mengukur arus yang lebih besar sebuah resistor dipasang
paraler dengan galvometer. Ammeter merupakan galvanometer yang dihubungkan
paraler dengan resistor ( Shunt ) dengan hambatan , R , yang rendah. Disebut
resistor shunt , (“shunt” adalah persamaan kata “paraler dengan”). Hambatan
shunt adalagh R , dan hambatan kumparan galvanometer ( yang membawa arus)
adalah r .Nilai R dipilih menurut penyimpangan skala_penuh yang diingkan dan
biasanya sangat kecil mengakibatkan hambatan dalam ammeter sangat kecil pula.
Alat
ukura yang dibahas diatas adalah untuk arus searah. Jika arus bolak-balik
melalui meteran-metera ini, pembacaan akan naik turun dengan cepat, atau
mungkin tidak bergerak sama sekali karena perubahan bolak balik akan terlalu
cepat. Meteran dc seperti dibahas diatas dapat dimodifikasi untuk mengukur ac
dengan menambahkan dioda yang memungkin arus mengalir ke satu arah saja. Arus
satu arah yang dihasilkan bisa dibca dengan meteran. Meteran ac dapat
dikalibrasi untuk membaca nilai rms atau puncak.
Misalkan
anda ingin menentukan arus i pada rangkaian pengukuran arus dengan tegangan dan
tegangan V pada resistor R1. Karena ammeter digunakan untuk mengukur
arus yang melalui rangkaian , ia harus dipasng langsung ke dalam rangkaian
terusun seri dengan elemen-elemn lain. Semakin kecil hambatan dalamnya maka
semakin kecil pengaruhnya terhadap rangkaian. Dipihak lain, sebuah voltmeter
dihubungkan paralel dengan elemen rangkaian yang tegangannya akan diukur. Volt
meter digunakan untuk mengukur beda potensial anatar dua titik dan kedua ujung
kawatnya (kawat penghubung) dihubungkan kedua titik tersebut, dimana tegangan
tegangan R1 sedang diukur. Semakin besar hambatan dalamnya semakin
kecil pengaruhnyaterhadap rangkaian yang diukur.
Volmmeter dan ammeter mempunyai
beberapa resisitor seri atau shun untuk emberikan suatu jangkauan (range
pilihan). Multimeter dapat megukur tegangan , arus, dan hambatan. Kadang-kadang
disebut VOM ( Vol-Ohm-Meter). Meteran dengan pembacaan digital disebut volt
meter digital ( DVM ) atau multimeter digital ( DMM ). Untuk mengukur hambatan
, meteran harus berisi batrai dengan tegangan yang diketahui yang dihubungkan
seri ke resistor ( Rser ) dan ke ammeter ( terdiri dari galvanometer
dengan hambatan r dan resistor shunt Rsh ). Cara ini menghasilkan
sebuah ohmmeter. Resistor yang hambatannya akan diukur menutup rangkaian ini.
Dalam hal ini simpangan berbanding terbalik dengan hambatan. Dengan demikian,
jika hambatan kecil simpangan besra, dan sebaliknyakalibrasi skla bergantung pada
nilai resistor seri. Karen ohmmeter mengirimkan arus melalui alat yang
hambatannya akan diukur, ia seharusnya tidak digunakan pada alat yang peka yang
dapat dirusak oleh arus tersebut[16].
2.
Jenis-jenis Multimeter
b.
Multimeter Analog
Multimeter Analog atau Multimeter Jarum
adalah alat pengkur besaran listrik yang menggunakan tampilan dengan jarum yang
bergerak ke range-range yang kita ukur dengan probe. Analog tidak dii gunakan
untuk mengukur secara detail suatu besaran nilai komponen tetapi kebanyakan
hanya di gunakan untuk baik atau jeleknya komponen pada waktu pengukuran atau
juga di gunakan untuk memeriksa suatu rangkaian apakah sudah tersambung dengan
baik sesuai dengan rangkaian blok yang ada.
c.
Multimeter Digital
Multimeter
yang nilainya ukurnya ditunjukkan secara langsung berupa angka-angka.
3.
Penggunaan
a. Mengukur nilai Hambatan.
b. Mengukur nilai Dioda.
c. Mengukur nilai Transistor.
d. Mengukur tegangan AC.
4. Cara penggunaan
a. Atur
multimeter ke mode ohm atau tahanan. Hidupkan multimeter ke mode ON jika ia memiliki saklar daya
terpisah. Ketika multimeter mengukur tahanan dalam ohm, ia tidak dapat mengukur
kontinuitas karena tahanan dan kontinuitas berlawanan. Ketika ada sedikit
tahanan, kontinuitas akan besar, dan sebaliknya. Dengan ini, kamu dapat membuat
asumsi tentang kontinuitas berdasarkan nilai-nilai tahanan yang diukur.
Cari skala
Ohm pada pemutar. Pada multimeter analog, skala ini biasanya terletak paling
atas dan memiliki nilai tertinggi pada sisi kiri ("∞", tak berhingga)
yang secara bertahap berkurang hingga 0 di sebelah kanan. Ini berkebalikan dari
skala lain, yang memiliki nilai terendah di sebelah kiri dan tertinggi sebelah
kanan.
b. Amati indikator multimeter.
Jika kabel pengukuran tidak terhubung dengan apa pun, jarum atau penunjuk dari
multimeter analog akan diam di posisi paling kiri, menandakan nilai tahanan tak
berhingga atau "rangkaian terbuka." Hal ini aman dan berarti tidak
ada kontinuitas atau sambungan arus antara kabel hitam dan merah.
c. Hubungkan kabel pengukuran.
Hubungkan kabel hitam ke jack yang ditandai "Common" atau
"-". Kemudian, hubungkan kabel merah ke jack yang ditandai
dengan (simbol Ohm) Omega atau huruf "R" di dekatnya.
d. Sentuhkan
masing-masing ujung kabel pengukuran dengan satu sama lain. Penunjuk multimeter akan bergerak
ke arah kanan. Cari kenop pengatur nilai nol bertanda Zero Adjust, tekan dan
putar sehingga meteran menunjukkan "0" (atau mendekati "0"
sebisa mungkin).
1). Perhatikan bahwa posisi ini adalah "rangkaian
pendek" atau "0 ohm" indikasi
untuk rentang R x 1 ini.
2).
Selalu ingat untuk "menge-nol-kan" meteran segera setelah perubahan tahanan
atau kamu akan menemukan kesalahan penunjukan nilai.
3). Jika
kamu tidak dapat mencapai nilai 0 ohm, hal ini dapat berarti baterai lemah dan harus
diganti. Coba lagi melakukannya dengan baterai
baru.
4). Ukurlah
tahanan dari sesuatu, misalnya bola lampu yang masih baik. Cari dua titik kontak listrik dari
bola lampu. Mereka akan menjadi anoda dan katoda.
5). Coba
rentang yang berbeda.
Ubah rentang pengukuran ke R x 1. Nol-kan kembali multimeter untuk rentang ini
dan ulangi langkah di atas. Amati pergerakan meteran ke kanan yang tidak
secepat sebelumnya. Skala tahanan telah diubah sehingga setiap nomor pada skala
R dapat dibaca langsung.
6). Test
tahanan di tangan.
Gunakan rentang pembacaan R setinggi mungkin dan nolkan multimeter.
7). Pastikan pembacaan nilai telah akurat.
Penting memastikan bahwa ujung kabel pengukuran tidak menyentuh apa pun selain
perangkat yang sedang diuji. Perangkat yang telah terbakar tidak akan
menunjukkan "rangkaian terbuka" pada meteran saat pengujian jika
jarimu memberikan jalur alternatif penghantaran arus, seperti ketika menyentuh
ujung kabe[17].
BAB III
HASIL PRAKTIKUM
A. Penggukuran
1.
Pelaksanaan
Hari,
tanggal :Ahad, 27 september 2015
Waktu :11.30 – 12.30 WITA
Tempat :R.
B. II. 4. lantai 2 gedung B fakultas
tarbiyah IAIN mataram
2.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum yang
didapat ditarik dalam praktikum pengukuran (jangka sorong dan micrometer sekrup)
sebagai berikut:
a. Memahamani dan mempelajari alat ukur yang
beketelitian tinggi
b. Memahami cara membaca skala dalam penggunaannya dan
menentukan pembacaan skala besarnya
suatu besaran.
3.
Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
Adapun alat-alat dan bahan-bahan
yang digunakan dalam praktikum ini disajikan
pada tabel 3.1 di bawah ini,
Tabel
3.1 Tabel Alat dan bahan praktikum jangka sorong
|
NO
|
Alat
|
Bahan
|
|
1
|
Jangka
sorong
|
Penghapus
|
|
2
|
Mistar
|
Uang logam
|
|
3
|
Mikrometer
skrup
|
Uang
tasker
|
|
4
|
|
Buku tulis
|
4.
Langkah-langkah
Kerja
Adapun langkah-langkah kerja
yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a. Jangka sorong
1)
Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2) Memutar kunci ke kiri untuk membuka rahang sorong
3) Memasukkan benda ke rahang bawah jangka sorong dan
menggeser rahang agar menjepit pada benda
4) Menghitung panjang, lebar dan tinggi benda dengan
memperhatikan skala utama dan skala nonius
5) Mengulangi langkah kerja ke 4 sebanyak tiga kali
percobaan
6) Mencatat hasil pengukuran atau praktikum pada
tabel percobaan
b. Mistar
1)
Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang diperlukan.
2)
Mengukur panjang, tinggi dan lebar benda dengan menggunakan mistar
3)
Mengulangi langkah ke 2 sebanyak tiga kali
4)
Mencatat hasilpercobaan atau
prakikum pada table percobaan
c. Mikrometer sekrup
1) Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang diperlukan.
2) Memutar pengunci dan pasttikan dalam keadaan
terbuka.
3) Membuka rahang dengan cara memutar ke kiri pemutar
sehingga benda dapat dimasukkan ke rahang.
4) Meletakkan benda yang diukur ke dalam rahang
kemudian menutup rahangg dengan cara memutar ke kanan pemutar sehingga benda
dapat dijepit oleh rahang.
5) Memutar pengunci sehingga skala putar tidak dapat
digerakkan.
6) Menghitung tebal benda.
7) Mengulangi langkah ke 4 sampai tiga kali.
8) Mencatat hasil pengukuran.
5. Hasil Pengamatan
a.
Gambar Hasil
Praktikum
|
Keterangan
|
|||||||
|
1.Uang logam
2.Uang kertas
3.gelas kimia
4.Mikrometer sekrup
5.Jangka sorong
6.Penghapus
7.Buku tulis
8.Mistar
|
Gambar 3.1 Gambar hasil praktikum pengukuran
b.
Data hasil
pengamatan
1)
Jangka Sorong
Tabel 3.2 Tabel hasil
pengukuran penghapus
|
NO
|
Benda yang diukur
|
Pengukuran jangka sorong
|
Pengukuran mistar
|
Selisih
|
|||
|
1
|
2
|
3
|
R
|
||||
|
1
|
Panjang
|
2,35
Cm
|
2,25
Cm
|
2,25
cm
|
2,283 cm
|
2,5 cm
|
0,217 cm
|
|
2
|
Lebar
|
1,85
Cm
|
1,75
Cm
|
1,75
cm
|
1,783
cm
|
1 cm
|
0,783
Cm
Cm
|
|
3
|
Tinggi
|
1,07
Cm
|
1,07
|
1,07
cm
|
1,07
cm
|
1,5 cm
|
0,43
|
Tabel 3.3 Tabel hasil pengukuran gelas kimia
|
NO.
|
Diameter benda yang diukur
|
Pengukuran jangka sorong
|
Penguran mistar
|
Selisih
|
|||
|
1
|
2
|
3
|
R
|
||||
|
1
|
Diameter dalam
|
9,32
Cm
|
9,32
Cm
|
9,32
cm
|
9,32
cm
|
7,5 cm
|
1,82 cm
|
|
2
|
Diameter luar
|
0,78
Cm
|
0,78
Cm
|
0,78
cm
|
0,78 cm
|
6,8 cm
|
5,75
Cm
|
|
3
|
Kedalaman
|
6,87
Cm
|
6,87
Cm
|
6,87
cm
|
6,87
cm
|
9,3
cm
|
2,43
Cm
|
2)
Mikrometer Sekrup
Tabel 3.4 Tabel Pengukuran penghapus
|
NO
|
Benda yang diukur
|
Pengukuran menggunakan micrometer sekrup
|
|||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Uang logam
|
0,3 mm
|
0,3 mm
|
0,3 mm
|
0,3 mm
|
|
2
|
Uang kertas
|
0,3 mm
|
0,3 mm
|
0,3 mm
|
0,3 mm
|
|
3
|
Buku tulis
|
0,35 mm
|
0,35 mm
|
0,35 mm
|
0,35 mm
|
c.
Analisis data
a) Pengukuran
penghapus menggunakan micrometer sekrup
Hasil pengukuran pada percobaan pertama, kedua dan
ketiga mendapatkan hasil yang sama baik pada pengukuran uang logam,uang kertas
maupun buku tulis.
1). Uang logam
Su = 0,1 mm
Sn = 20 x 0,01
= 0,2 mm
X = 0,1 + 0,2
= 0,3 mm
2). Uang kertas
Su= 0 mm
Sn = 3 x 0,01
= 0,03 mm
X = 0 + 0,03
= 0,03 mm
3). Buku tulis
Su = 0,1 mm
Sn = 25 x 0,01
= 0,25 mm
X = Su + Sn
= 0,1 + 0,25
= 0,35 mm
b) Pengukuran penghapus menggunakan jangka sorong
Percobaan pertama
1). Panjang
Su = 2,3 cm
Sn = 5 x 0,01
= 0,05 cm
X = Su + Sn
= 2,3 + 0,05
= 2,35 cm
2). Lebar
Su = 1 cm
Sn = 7 x 0,01
= 0,07 cm
X = Su + Sn
= 1 + 0,07
= 1,07 cm
Percobaan kedua dan ketiga memiliki hasil pengukuran
yang sama
1). Panjang
Su = 2,2 cm
Sn = 5 x 0,01
= 0,05 cm
X = Su + Sn
= 2,2 + 0,05
= 2,25 cm
2). Lebar
Su = 1,7 + 0,05
Sn = 5 x 0,01
= 0,05 cm
X = 1,7 + 0,05
= 1,75 cm
3). Tinggi
Su = 1 cm
Sn = 7 x 0,01
= 0,07 cm
X = Su + Sn
= 1 + 0,07
= 0,07 cm
Pengukuran kedalam, diameter dalam dan diameter luar
gelas kimia menggunakan jangka sorong
Keterangan : Hasil pengukuran pertama sampai ketiga
memiliki ukuran yang sama.
1). Kedalaman
Su = 9,3 cm
Sn = 2 x 0,01
= 0,02 cm
X = 9,3 + 0,02
= 9,32 cm
2). Diameter luar
Su = 6,8 cm
Sn = 7 x 0,01
= 0,07 cm
X = Su + Sn
= 6,8 + 0,07
= 6,87 cm
3).Diameter dalam
Su = 0,7 cm
Sn = 8 x 0,01
= 0,08 cm
X = 0,07 + 0,08
= 0,78 cm
6. Pembahasan
Jangka sorong dan mikrometer
skrup adalah alat ukur yang mempunyai ketelitian 0,1 mm dan 0,01 mm,kedua alat
ini mempunyai dua bagian yaitu rahang tetap dan geser dan mempunyai dua skala
yaitu skala utama dan sekala nonius.
Dari
hasil praktikum dapat di deskripsikan bahwah jangkia sorong, dan mikrometer
skrup banyak di gunakan untuk mengukur benda yang tergolong kecil. Sedangkan
untuk mengukur benda – benda yang besar, biasanya di gunakan mistar
Pengukuran
yang memiliki ketelitian paling tinggi adalah pengukuran dengan menggunakan
alat mikrometer skrup karena ketelitiannya mencapai 0,01 mm sedangkan alat yang
memiliki kesalahan paling tinggi adalah mistar, karena hanya memiliki
ketelitian 0,1 cm
Pada
praktikum ini kita melakukian pengukuran menggunakan jangka sorong dan
mikrometer sekrup. Pada alat jangka sorong berfungsi untuk mengukur ketebalan
suatu benda,diameter suatu benda, baik diameter dalam maupun luar
Ketika
pengukuran dapat terjadi kesalahan atau ketidak pastian, cara memberikan nilai
skala pada waktu pembuatan alat tidak tepat sehingga berakibat setiap kali alat
digunakan suatu ketidak pastian melekat pada hasil pengukuran.Tidak hanya itu
gesekan-gesekan selalu timbul antara bagian yang satu yang bergerak terhadap
benda yang lain.
Dalam pengukuran menggunakan jangka sorong
tidak selamanya antara percobaan pertama dan kedua akan sama, seperti pada
table di atas dalam pengukuran panjang, lebar dan tinggi penghapus pertama
dengan hasil pengukuran 2,35 dan pada percobaan kedua dengan ketiga 2,25 untuk
panjang. Perbedaan ini disebabkan oleh tekanan rahang tetap dengan rahang geser
yang longgar atau terlalu ditekan.
Sedangkan micrometer yang kami gunakan adalah
micrometer dengan ketelitian 0,01 mm, sebagaimana jangka sorong, multimeter
sekrup juga memiliki dua skala yaitu skala tetap dan skala geser[18]
7. Simpulan
Dari praktikum pengukurandengan jangka sorong, kita dapat melakukan
pengukuran pada benda-benda yang berdimensi kecil dengan menggunakan alat yang
memiliki ketelitian tinggi seperti jangka sorong dan micrometer sekrup.
Kitajuga dapat mengetahui bagaimana cara membaca skala dan penggunaannya dan
dapat mengetahui ukuran benda yang kita ukur.
B. Bandul Matematis
1.
Pelaksanaan
a. Hari, tanggal :Ahad,
27 September 2015
b. Waktu :08.00
– 09.07 WITA
c. Tempat :R.
B. II. 2. Lantai 2 gedung B fakultas tarbiyah IAIN
Mataram
2.
Tujuan Praktikum
a. Untuk mengetahui azas kerja bandul matematis dan
getaran selaras
b. Memahami dan menentukan percepatan gravitasi disuatu
tempat percobaan diakukan.
3.
Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan dan alat-alat
yang digunakan dalam praktikum ini disajikan
pada tabel 3.5 di bawah ini,
Tabel
3.5 Tabel alat dan bahan pratikum bandul matematis
|
NO
|
Alat –
alat
|
Bahan
-bahan
|
|
1
|
Statif
|
Bandul
|
|
2
|
Penggaris
|
|
|
3
|
Busur
|
|
|
4
|
Tali
|
|
4.
Langkah-langkah
Kerja
Adapun langkah-langkah kerja
yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a. Menyiapakan alat dan bahan praktikum yang
diperlukan
b. Mengukur tali 100 cm dengan menggunakan mistar
c. Mengikat bandul dengan tali
d. Menyimpangkan bandul sebesar 150 dengan menggunakan busur drajat.
e. Menghitung ayunan sampai 15 kali pertama
f. Mencatat waktu (s) untuk 15 ayunan.
g. Mengulang langkah kerja ke 1-7 dengan menggunakan
tali dengan panjang tali 90 cm, 80 cm, 70 cm, 60 cm.
h. Mencatat hasil
penelitian dalam tabel pengamatan.
5.
Hasil Pengamatan
a.
Gambar hasil
praktikum
|
Gambar
|
Keterangan
|
|||||
|
1. Statif
2.
Bandul
3. Busur
4.
Mistar
5. Tali
|
Gambar 3.2 Gambar hasil
praktikum bandul matematis
b.
Data Hasil Praktikum
Tabel 3.6 Hasil pengamatan dan perhitungan bandul
|
NO.
|
Panjang tali (cm)
|
Osilasi (n)
|
Waktu (t)
|
Priode (T)
|
T2
|
G
|
|
1
|
100 cm
|
15
|
30
|
2
|
4
|
9,86
|
|
2
|
90 cm
|
15
|
28
|
1,9
|
3,61
|
9,83
|
|
3
|
80 cm
|
15
|
27
|
1,8
|
3,24
|
9,73
|
|
4
|
70 cm
|
15
|
25
|
1,7
|
2,89
|
9,55
|
|
5
|
60 cm
|
15
|
24
|
1,6
|
2,56
|
9,24
|
c.
Analisis data
1). Panjang tali 100 cm
T =
=
= 2
T2 = 2.2
= 4
g =
=
= 9,86 m/s2
2). Panjang tali 90 cm
T =
=
= 1,9
T2 = 1,9 . 1,9
= 3,61
g =
=
= 9,83 m/s2
3). Panjang tali 80 cm
T =
=
= 1,8
T2 = 1,8 . 1,8
= 3,24
g =
=
= 9,73 m/s2
4). Panjang tali 70 cm
T =
=
= 1,7
T2 = 1,7 . 1,7
= 2,89
g =
=
= 9,55 m/s2
5). Panjang tali 60 cm
T =
=
= 1,6
T2 = 1,6 . 1,6
= 2,56
g =
=
= 9,24 m/s2
6.
Pembahasan
Pada bandul matematis menggunakan tali yang tidak mempunyai massa, sebab
kalau tali mempunyai massa maka bandul tidak bisa berosilasi. Maka oleh sebab
itu bandul matematis menggunakan tali yang tidak mempunyai massa.
Hasil dari percobaan badul matematis tidak semua percobaan itu benar,
bias diakibatkan karena tali tidak sama ukurannya atau bandul tidak berisolasi
berketetapan deengan waktu dan tempat
percobaan dilakukan.
7.
Simpulan
Daripraktikum
bandul matematis ini kita dapat mengetahui gravitasi pada tempat percobaan, dan
mengetahui azas kerja bandul matematis.
C. Hukum Hooke
1. Pelaksanaan
a.
Hari, tanggal :Ahad, 11 oktober 2015
b.
Waktu :10.53 –
11.10 WITA.
c.
Tempat :R. B.
II. 3. Lantai 2 gedung B fakutas ilmu tarbiyah kampus II IAIN mataram.
2.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum hokum
hooke adalah sebagai berikut:
a. Memahami konsep hokum hooked an elastisitas pegas.
b. Menentukan konstanta pegas dengan metode osilasi dan
pertambahan panjang.
3. Alat-alat dan
Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan dan alat-alat
yang digunakan dalam praktikum ini disajikan
pada tabel 3.7 di bawah ini:
Tabel
3.7 Tabel alat dan bahan praktikum hukun hooke.
|
NO.
|
Alat –
alat
|
Bahan –
bahan
|
|
1
|
Pegas
|
Beban
|
|
2
|
Stopwact
|
|
|
3
|
Statif
|
|
|
4
|
Mistar
|
|
4.
Langkah-langkah
Kerja
Adapun langkah-langkah kerja
yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a. Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang
diperlukan.
b. Memasaang rahang pengunci pada rahang statif
kemudian memasangnya pada batang statif.
c. Menggantungkan pegas pada rahang ststif dan
mengukur panjang mula – mula pegas.
d. Menggantungkan beban pada pegas dan mengukur
perubahan panjang pada pegas.
e. Mengukur langkah (d) dengan menambahkan gerak beban
sebanyak 4 kali.
f. Mengamati perubahan panjang terjadi pada pegas.
g. Mencatat hasil pengamatan.
5.
Hasil Pengamatan
a.
Gambar hasil
praktikum
|
Gambar
|
Keterangan
|
|||||
|
1.
Statif
2. Pegas
3.
Mistar
4.
Stopwact
5. Beban
|
Gambar 3.3 Gambar hasil
praktikum hukum hooke.
b.
Data hasil
praktikum
Tabel 3.8 Tabel penambahan pegas pada konstanta
pegas
|
NO
|
Massa
(m) kg
|
X0
|
X1
|
Δx
|
Gaya (F)
N
|
Konstanta
(N/m)
|
|
1
|
0,05
|
0,16
|
0,215
|
0,055
|
0,5
|
0,9
|
|
2
|
0,06
|
0,16
|
0,24
|
0,08
|
0,6
|
7,5
|
|
3
|
0,07
|
0,16
|
0,245
|
0,085
|
0,7
|
82
|
|
4
|
0,08
|
0,16
|
0,27
|
0,11
|
0,8
|
7,2
|
|
5
|
0,09
|
0,16
|
0,28
|
0,12
|
0,9
|
7,5
|
Tabel 3.9 Tabel priode dan
frekuensi osilasi pegas
|
NO.
|
Massa
(m) kg
|
Waktu
(t) s
|
Priode
(T) s
|
Konstanta
(k) N/m
|
Frekuensi
(f) Hz
|
N
|
|
1
|
0,05
|
7
|
1,7
|
0,68
|
1,59
|
12
|
|
2
|
0,06
|
8
|
1,5
|
1,05
|
0,67
|
12
|
|
3
|
0,07
|
8,92
|
1,34
|
1,54
|
0,75
|
12
|
|
4
|
0,08
|
9,30
|
1,29
|
1,9
|
0,77
|
12
|
|
5
|
0,09
|
9,67
|
1,24
|
2,3
|
0,8
|
12
|
c.
Analisis data
Analisis data pada tabel
3.8
1). Massa
benda 0,05 Kg
Δx = x1 – x0
= 0, 215 – 0,16
= 0,055 m
F = m.g
= 5.10-2 . 10
= 5.10-1 N
K =
=
= 0,9 N/m
2). Massa
benda 0,06 Kg
Δx = x1 – x0
= 0, 24 – 0,16
= 0,08 m
F = m.g
= 6.10-2 . 10
= 6.10-1 N
K =
=
= 7,5 N/m
3). Massa
benda 0,07 Kg
Δx = x1 – x0
= 0, 245 – 0,16
= 0,085 m
F = m.g
= 7.10-2 . 10
= 7.10-1 N
K =
=
= 0,0082
N/m
4). Massa
benda 0,08 Kg
Δx = x1 – x0
= 0, 27 – 0,16
= 0,11 m
F = m.g
= 8.10-2 . 10
= 8.10-1 N
K =
=
= 7,2 N/m
5). Massa
benda 0,09 Kg
Δx = x1– x0
= 0, 28 – 0,16
= 0,12 m
F = m.g
= 9.10-2 . 10
= 9.10-1 N
K =
=
= 7,5 N/m
Analisis data pada table 3.9
1). m
= 0,05 Kg
T =
=
= 1,7 s
K=
=
= 68,23 . 10-2 N/m
F =
=
= 1,59 Hz
2). m
= 0,06 Kg
T =
=
= 1,5 s
K=
=
= 105,17 . 10-2 N/m
F =
=
= 1,67 Hz
3). m
= 0,07 Kg
T =
=
= 1,34 s
K=
=
= 154,23 . 10-2 N/m
F =
=
= 0,75 Hz
4). m
= 0,08 Kg
T =
=
= 1,29 s
K=
=
= 190,0 . 10-2 N/m
F =
=
= 0,77 Hz
5). m
= 0,09 Kg
T =
=
= 1,24 s
K=
=
= 230,49 . 10-2 N/m
F =
=
= 0,8 Hz
6.
Pembahasan
Dari
pecobaan hukum hooke terlihat pada table 3.8 bahwa gaya dan pertambahan panjang
paling besar tejadi pada beban 0,09 Kg yaitu 0,9 N dan 0,12 m sedangkan
kostanta paling besar terjadi pada beban 0,07 Kg yaitu 8,2 N/m. Untuk gaya,
pertambahan panjang dan konstanta paling kecil terjadi pada pembebanan 0,05 Kg yaitu
0,5 N dan 0,055 m dan 0,9 N/m. Dari data tersebut terlihat bahwa konstanta
pegas tidak akan selalu sama dikarenakan oleh beberapa factor seperti pada saat
penggantungan, hembusan angin sehingga pegas terus bergerak, disebabkan juga
karena pada saat menyempangkan beban tidak lurus dan pada saat melepaskan beban
dan stopwatch tidak tepat.
Pada percobaan
dengan mencari nilai periode dan
frekunsi osilasi pegas.kami memiliki masa yang berbeda-beda dengan urutan massa yang digunakan
adalah 50 kg,60 kg,70 kg,80 kg,dan 90 kg,dengan gerakkan osilasi yang sama
yaitu 12 n,dalam mencari periode,konstanta pegas dan frekuensi yang dimana saya
mendapatkan hasil frekuensi pertama yaitu
5.10-1 N, serta konstanta yang di dapatkan adalah 0,9
N/m,dimana rumus yang digunakan tersebut untuk mencari frekuensi adalah F=
m.g,serta rumus yang digunakan untuk mencari konstanta ialah k=F/
,dan begitun cara
seterusnya untuk mencari hasil untuk frekuensi dan konstanta[19].
7. Simpulan
Dari praktikum hokum hooke dapt
disimpulkan bahwa gaya yang dikerjakan pada pegas berbanding lurus dengan
pertambahan panjang pegas. Semakin besar penambahan beban semakin besar pula
gaya yang dilakukan dan banyak waktu osilasinya.
D. Hambatan dalam Baterai
1.
Pelaksanaan
a.
Hari, tanggal :Ahad, 11 oktober 2015
b.
Waktu :08.37 –
08.45 WITA.
c.
Tempat :R. B.
II. 4. Lantai 2 gedung B fakultas tarbiyah kampus II. IAIN mataram.
2.
Tujuan Praktikum
Adapun
tujuan praktikum hambatan dalam baterai yaitu: Untuk menentukan besarnya
tegangan dalam pada suatu baterai menggunakan persamaan tegangan jepit.
3.
Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
Adapun
bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada tabel 3.10 di bawah ini:
Tabel 3.10 Tabel alat dan bahan
pada praktikum hambatan dalam baterai
|
NO.
|
Alat-alat
|
Bahan-bahan
|
|
1
|
Kabel penghubung
|
Baterai
|
|
2
|
Ampere meter
|
|
|
3
|
Volt meter
|
|
4.
Langkah-langkah
Kerja
Adapun langkah-langkah kerja
yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a. Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang
diperlukan.
b. Menghubungkan kabel multimeter warna hitam kedalam
lubang com multimeter digital.
c. Menghubungkan kabel multimeter warna merah ke dalam
lubang tegangan dan lubang kuat arus pada multimeter digital.
d. Memutar petunjuk multimeter ke posisi 20volt dan
posisi 20 A sebanyak 3 kali percobaan .
e. Menghubungkan ujung kabel ke dalam baterai sebanyak
3 kali percobaan.
f. Mengamati dan mencatat hasil pengamatan.
5.
asil Pengamatan
a.
Gambar hasil
praktikum
|
Gambar
|
Keterangan
Gambar
|
|||
|
1.
Multimeter digital
2. kabel
penghubung
3.
Baterai
|
Gambar 3.4 Gambar hasil
praktikum hambatan dalam baterai.
b.
Data hasil
praktikum
Tabel 3.11 Tabel pada satu baterai
|
NO.
|
Sumber
tegangan
|
E (Volt)
|
I (mA)
|
V (volt)
|
R (ohm)
|
|
1
|
Baterai
|
1,7 V
|
1,38 A
|
1,51 V
|
0,137 Ω
|
|
2
|
Baterai
|
1,7 V
|
1,36 A
|
1,51 V
|
0,139 Ω
|
|
3
|
Baterai
|
1,7 V
|
1,35 A
|
1,51 V
|
0,14 Ω
|
|
Rata-rata
|
1,7 V
|
1,36 A
|
1,51 V
|
0,138 Ω
|
|
Tabel 3.12 Tabel pada dua baterai
|
NO.
|
Sumber
tegangan
|
E (Volt)
|
I (mA)
|
V (volt)
|
R (ohm)
|
|
1
|
Baterai
|
3,4 V
|
2,13 A
|
3,01 V
|
0,183 Ω
|
|
2
|
Baterai
|
3,4 V
|
2,11 A
|
3,02 V
|
0,180 Ω
|
|
3
|
Baterai
|
3,4 V
|
2,09 A
|
3,02 V
|
0,181 Ω
|
|
Rata-rata
|
3,4 V
|
2,11 A
|
3,01 V
|
0,181 Ω
|
|
c.
Analisis data
Analisis pada satu baterai
1)
Percobaan pertama
r =
=
=
= 0,137 Ω
2). Percobaan
kedua
r =
=
=
= 0,139 Ω
3). Percobaan
ketiga
r =
=
=
= 0,14 Ω
Analisis rata-rata pada satu baterai
1). Rata-rata sumber tegangan
X =
=
=
= 1,7 V
2). Rata-rata
kuat arus
X =
=
=
= 1,36 A
3). Rata-rata
tegangan dalam
X =
=
=
= 1,51 V
4). Rata-rata
hambatan dalam
X =
=
=
= 0,138 Ω
Analisis data
pada dua baterai
1). Percobaan pertama
r =
=
=
= 0,183 Ω
2). Percobaan kedua
r =
=
=
= 0,180 Ω
3). Percobaan
pertama
r =
=
=
= 0,181 Ω
Rata-rata pada dua baterai
1). Rata-rata sumber tegangan
X =
=
=
= 3,4 V
2). Rata-rata kuat arus
X =
=
=
= 2,11 A
3). Rata-rata tegangan dalam
X =
=
=
= 3,01 V
4). Rata-rata hambatan dalam
X =
=
=
= 0,181 Ω
6.
Pembahasan
Hambatan dalam baterai
adalah suatu hambatan yang dimiliki dan memang berada di dalam baterai itu
sendiri. Hambatan dalam baterai juga merupakan suatu halangan yang selalu
ada untuk muatan yang mengalir bebas di dalam elektrolit antara
elektroda-elektroda baterai.
Ketika arus ditarik
dari baterai, tegangan antara terminal positif dan negative turun dari ggl nya
atau menjadi tidak konstan. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia pada baterai
yang tidak dapat memasok muatan dengan cukup cepat. Untuk
mempertahankan ggl penuh, muatan –muatan yang mengalir bebas selalu
mengalami hambatan. Artinya, dalam baterai itu sendiri terdapat hambatan yang
disebut hambatan dalam baterai. Oleh karena itu, baterai sebenarnya dapat
dianggap sebagai sebuah baterai ideal dengan ggl yang disusun seri terhadap
hambatan. Vab adalah tegangan jepit, yang juga merupakan tegangan luar iR.
Ggl atau gaya gerak
listrik berarti beda potensial antara terminal sumber, bila tidak ada arus yang
mengalir ke rangkaian luar. Istilah ggl sebenarnya tidak cocok dalam hal
kelistrikan ini karena dalam listrik tidak mempunyai stuan newton sehingga
orang-orang sering menyebutnya ggl saja.
Rangkaian terbuka
adalah suatu rangkaian listrik yang memiliki ujung-ujungrangkaian. Rangkaian
tertutup adalah suatu rangkaian listrik yang tidak memiliki ujung rangkaian,
arus listrik (I) , terus mengalir hingga tegangan (V) habis.
Arus listrik
dalam sebuah rangkaian tidak dapat mengalir melalui rangkaian terbuka, maupun
secara internal di dalam sebuah baterai sekalipun. Arus listrik hanya dapat
mengalir pada suatu loop tertutup yang di dalamnya terdapat sebuah sumber
tegangan. Arus listrik akan mengalir melalui kawat penghantar, beban (hambatan
pada rangkaian), dan hambatan yang ada dalam baterai itu sendiri.[20]
7. Simpulan
Dari praktikum hambatan dalam
baterai ini dapat di simpulktan tegangan dalam baterai dapat ditentukan dengan
mencari sumber tegangan, kuat arus dan tegangan luar pada baterai.
E. Multimeter
1.
Pelaksanaan
Hari, tanggal :Ahad, 25 Oktober 2015
Waktu :10.15 – 10.34 WITA
Tempat :R. B. II. Gedung B Lantai 2 Fakuultas Tarbiyah
IAIN Mataram
2.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum hambatan dalam baterai
sebagai berikut:
a.
Memahami jenis -
jenis multimeter
b.
Memahami
penggunaan multimeter.
3.
Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
Adapun
bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada tabel 3.13 di bawah ini.
Tabel 3.13 Tabel
alat dan bahan pada praktikum multimeter
|
NO
|
Alat-alat
|
Bahan-bahan
|
|
1
|
Multimeter
|
Resistor
|
|
2
|
Papan rangkaian
|
|
|
3
|
Kabel penghubung
|
|
|
4
|
Sumber tegangan
|
|
4.
Langkah-langkah
Kerja
Adapun langkah-langkah kerja yang dikerjakan dalam
praktikum ini disajikan di bawah ini,
a.
Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang diperlukan
b.
Menentukan warna dari resistor pertama
c.
Menghitung resistor secara manual
d.
Mengukur nilai resistor dengan menggunakan ressistir
e.
Menghubungkan dua kabel penghubung yang telah dihubungkan dengan
multimeter pada masing-masing ujung resistor.
f.
Memperlakukan resistor kedua dan ketiga sama dengan resistor pertama
dalam menentukan nilai dari ketiga resistor.
g.
Mencatat hasil pengamatan pada tabel
pengamatan.
5.
Hasil Pengamatan
a.
Gambar hasi
praktikum
|
Gambar
|
Keterangan Gambbar
|
||||
|
1. Papan
rangkaian
2.
Resistor
3. Kabel
penghubung
4.
Multimeter digital
|
Gambar 3.5 Gambar hasil
praktikum penggunaan multimeter
b.
Data hasil praktikum
Tabel 3.14 Tabel identitas multimeter
|
Jenis
mutimeter
|
Merk
|
Type
|
Fungsi-fungsi
pilihan
|
Batas ukur
|
|
|
minimal
|
Maximal
|
||||
|
Multimeter
digital
|
Alda
|
Dt830B
|
Hambatan(Ω)
|
200 Ω
|
2000 Ω
|
|
Tegangan(volt)
|
200 V
|
1000 V
|
|||
|
Kuat
arus (µA)
|
200 µA
|
2000 µA
|
|||
Tabel 3.15 Tabel pembaca
nilai hambatan secara teoritis
|
NO.
|
Kode warna
|
Nilai
Hambatan
|
Ralat
|
|
1
|
Cokelar_abu-abu_hitam_emas
|
18 ± 5%
|
27,7 %
|
|
2
|
Cokelat_hijau_hitam_emas
|
15 ± 5%
|
33,3 %
|
|
3
|
Cokeat_hitam_hitam_emas
|
10 ± 5%
|
50 %
|
Tabel 3.16 Tabel
multimeter sebagai ohmmeter
|
Multimeter Digital
|
||
|
Nilai
tertampil
|
Batas
ukur
|
Skala
terkecil
|
|
12,7 Ω
|
200 –
2000 Ω
|
200 Ω
|
|
17,0 Ω
|
200 –
1000 V
|
200 V
|
|
11,8 Ω
|
200 –
2000 µA
|
200 µA
|
c.
Analisis data
1). Resistor pertama
R = cokelat _ abu-abu _ hitam _ emas
= (18 . 100) ± 5%
= (18 . 1) ± 5%
= 18 ± 5%
Rr =
x 100%
=
x 100%
=
27,7 %
2). Resistor kedua
R = cokelat _ hijau _ hitam _ emas
= (15 . 100) ± 5%
= (15 . 1) ± 5%
= 15 ± 5%
Rr =
x 100%
=
x 100%
= 33,3 %
3). Resistor ketiga
R = cokelat _ hitam _ hitam _ emas
= (10 . 100) ± 5%
= (10 . 1) ± 5%
= 10 ± 5%
Rr =
x 100%
=
x 100%
=
50 %
6.
Pembahasan
Multimeter
adalah suatu alat perhitungan yang berfungsi untuk mengukur tegangan, hambatan
dan kuat arus serta untuk mengetahui baik atau tidaknya suatun komponen
tertentu. Dan pada praktikum kali ini kita menggunakan multimeter digital untuk
menentukan nilai hambatan dan nilai ralat pada suatu resistor. Dimana resistor adalah terminal dua komponen
elektronik yang menghasilkan tegangan pada terminal yang sebanding dengan arus
listrik. Komponen resistor termasuk
komponen pasif yaitu komponen yang bekerja tanpa memerlukan arus pijar. Pada
komponen resistor biasanya terdapat 4 warna. 3 warna sebagai nilai dan 1 warna
sebagai toleransi.
Pada
praktikum kali ini kita menggunakan resistor pertama dengan warna coklat_
abu-abu_ hitam_emas dengan nilai tertampil 12,7 Ω dengan hasil nilai hambatan
18 ± 5% dan nilai dan nilai ralat 27,7 %, pada resistor kedua dengan warna
cokelat_hijau_hitam_emas dengan nilai tertampil 17,0 Ω, hasil nilai hambatannya
15 ± 5 % dan nilai ralat 33,3 %. dan pada resistor ketiga warna cokelat_hitam_hitam_emas
denan nilai tertampil 11,8 Ω, hasil
nilai hambatannya 10 ± 5 % dan nilai ralatnya 50 %. Dalam menghitung hambatan
resistor kita dapat menghitungnya secara manual atau dapat menggunakan
multimeter.
Dari
percobaan tersebut hasilnya akan berbeda antara menghitung secara manual dan
menghitung dengan multimeter . Perbedaan tersebut dikarenakan
dalam menghitung tegangan resistor menggunakan multimeter kurang teliti, bisa
saja pada saat penulisan angka hasil percobaan tidak tepat karena angka yang
menunjukkan nilai tegangan resistor masih belum diam[21].
7. Simpulan
Dari praktikum
penggunaan multimeter dapat kita ambil
simpulan bahwa jenis-jenis multimuter yaitu: multimeter digital dan multimeter
analog.Dan kita jug adapt mengetahui penggunaan multimeter sebagai alat untuk
mengukur tegangan, hambatan dan kuat arus.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
praktikum ynagtelah dilakukan dapat di simpulkan bahwa:
1.
Pengukuran
Dengan melakukan praktikum ini kita
dapat melakukan pengukuran pada benda-benda yang berdimensi kecil dengan
menggunakan alat yang memiliki keteitian tinggi seperti jangka sorong dan
mikrometre sekrup. Dan juga kita dapat mengetahui bagaimana cara membaca skala
dalam penggunaannya serta dapat mengetahui ukuran dari benda kita ukur.
2.
Bandul matematis
Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat dimpulkan
bahwa, Secara umum azas kerja ayunan bandul matematis berawal dari gerak
osilasi. Gerak osilasi adalah gerak sebuah bandul apabila disimpangkan sejauh (
) kemudian
dilepaskan lama-kelamaan akan kembali ke keadaan semula atau setimbang. Selain
itu, pada tempat percobaan dilakukan memiliki gaya gravitasi yang berbeda
sehingga menghasilkan nilai yang berbeda pula.
3.
Hukum hooke
Dalam percobaan hokum
hooke bedasarkan tujuan dapat disimpulkan bahwa gaya yang dikerjakan pada pegas
berbanding lurus dengan pertambahan panjang pegas. Hal ini terjadi karena penambahan beban yang mengakibatkan
bertambahnya gaya dan waktu osilasi.
4.
Hambatan dalam
baterai
Untuk pecobaan hambatan
dalam baterai dapat disimpulkan bahwa tegangan dalam baterai dapat ditentukan
dengan mencari sumber tegangan, kuat arus dan tengan luar pada baterai. Hambatan dalam baterai adalah suatu hambatan yang
dimiliki dan memang berada di dalam baterai itu sendiri.dan dapat menentukan besar
tegangan dalam baterai dengan menggunakan sumber tegangan jepit
5.
Pengunaan
multimeter
Jenis-jenis multimeter ada dua, yaitu multimeter
analog dan multimeter digital. Multimeter analog adalah nilai ukurnya ditunjukan
oleh sebuah jarum penunjuk yang digerakan oleh sebuah kumparan putar, yaitu
kumparan yang ditempatkan di dalam medan magnet sehingga dapat berputar ketika
dialiri kuat arus. Mulltimeter digital merupakan multimeter yang nilai ukurnya
ditunjukkan secara langsung berupa angka-angka digital melalui sevent segment dispay tertentu,
nilai-nilai ini dihasilkan oleh sebuah ADC (Analg
to Digital Converted) yaitu piranti pengubah sinyal analaog menjadi
digital.
B.
Kritik
dan Saran
Dalam melakukan peraktikum sebaiknya
dilakukan dengan teliti dan cermat agar hasil praktikum sesuai dengan yang
diinginkan. Bagi Co Asisten sebelum menyampaikan materi sebaiknya terlebih
dahulu melalukan diskusi terhadap persamaan yang akan digunakan agar peserta
tidak ragu dengan persmaan yang akan digunakan. Untuk bapak pengelola
laboraturium untuk alat-alatnya udah baik,namun alangkah baiknya jika alat-alat
yang di sediakan lebih banyak lagi,agar kami tidak capek menunggu pada saat
praktek.
DAFTAR PUSTAKA
Arisworo, D. dkk. 2006. Fisika Dasar . Jakarta. Grafindo Media Pratama.
Bahtiar. 2010. Fisika Dasar 1. Mataram. Kurnia Kalam Semesta.
Bahtiar, dkk. 2013. Petunjuk
Praktikum Fisika Dasar. Mataram. IAIN
Mataram.
Giancoli. 2001. FISIKA edisi 5
jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Depdiknas. 2006. Pengembangan Bahan Ajar. http://www.jardiknas.org. diakses pada tanggal 5 November 2015. pukul 12.30 WITA
Giancolli.
2000. Fisiska Jilid 2. Jakarta.
Erlangga
Gianti
Aby Sarojo, G, A,. 2002. Seri Fisika. Jakarta.
Salemba Teknik
Siswanto.
2005. Kompetensi Fisika. Jakarta. Pusat Pembukuan
Sustrisno.
2001. Fisika Dasar. Bandung. ITB.
Young
dan Freedman. 2002. Fisika Universitas. Jakarta.
Airlangga.
LAMPIRAN
Gambar lampiran
1 praktikum pengukuran
Gambar lampiran 2
praktikum hambatan dalam pada baterai
Gambar lampiran 3
praktikum hokum hooke
Gambar lampiran praktikum
4 penggunaan multimeter
Gambar lampiran
5 praktikum bandul matematis
[1] Depdiknas, Pengembangan Bahan Ajar ,
http://www.jardiknas.org. diakses
pada tanggal 5 November 2015. pukul 12.30 WITA
[2]
Bahtiar, Fisika Dasar 1 (Mataram:
Kurnia Kalam Semesta, 2010), h. 13.
[3]
Djoko Arisworo, dkk, Fisika Dasa (Jakarta:
Grafindo Media Pratama, 2006), h. 15.
[5]
Ibid., h. 10.
[6]
Gianti Aby Sarojo, Seri Fisika (Jakarta:
Salemba Teknik, 2002), h. 184.
[7]
Ibid., 218.
[8]
Sustrisno, Fisika Dasar (Bandung:
ITB, 2001), h. 79.
[9]
Bahtiar, op., cit., h. 220.
[10]
Sustrisno, Ibid,.. 80.
[11] Ibid,.
210.
[12]
Bahtiar, dkk, Petunjuk Praktikum Fisika
Dasar (Mataram: Laboratorium Fisika Dasar Fakultas Tarbiyah IAIN Mataram, 2013), h. 13.
[13]
Young & Freedman, Fisika Universitas
(Jakarta: Airlangga, 2002), h. 335.
[14]
Ibid,. 48.
[15]
Giancolli, Fisiska Jilid 2 (Jakarta:
Erlangga, 2000), h. 67.
[16]
Giancoli. FISIKA edisi 5 jilid 2. (
Jakarta : Erlangga. 2001) hal 116-119
[17] Depdiknas. 2006. Pengembangan Bahan Ajar. http://www.jardiknas.org.
diakses pada tanggal 5 November 2015.
pukul 12.30 WITA
[18]
Young
dan Freedman. Fisika Universitas
(Jakarta: Airlangga. 2002),h. 35-37
[19]
Siswanto. Kompetensi Fisika (Jakarta:
Pusat Pembukuan. 2005) h. 66
[20]
Giancolli.
Fisiska Jilid 2 (Jakarta : Erlangga.
2000). H. 20
[21]
Young
dan Freedman. Fisika Universitas (. Jakarta: Airlangga. 2002). h. 65
Tidak ada komentar:
Posting Komentar