LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR UNIVERSITAS



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Fisika sebagai induk mekanika-mekanika. Fluida, hidrolik, alat berat memerlukan pengukuran-pengukuran yang sangat teliti agar gejala yang dipelajari dapat dijelaskan (dan bisa diramalkan) dengan akurat. Sebenarnya pengukuran tidak hanya mutlak bagi fisika, tetapi juga bagi bidang-bidang ilmu lain termasuk aplikasi dari ilmu tersebut. Dengan kata lain, tidak  ada teori, prinsip, maupun  hukum dalam ilmu pengetahuan alam yang dapat diterima kecuali jika disertai dengan hasil-hasil pengukuran yang akurat.
Praktikum Fisika Dasar ini bertujuan untuk penunjang mata kuliah bidang Fisika Dasar. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Mataram. Pada praktikum ini dilakukan beberapa praktikum yaitu Praktikum pengukuran (jangka sorong dan micrometer sekrup), praktikum bandul matematis, praktikum hukum hooke dan praktikum multimeter.
Pengukuran merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Alat yang digunakan untuk mengukur ada banyak, diantaranya jangka sorong dan mikrometer sekrup. Percobaan ini dilakukan agar kita dapat membandingkan tingkat ketelitian mikrometer sekrup,  jangka sorong dan mistar. Sedangkan bandul matematis adalah salah satu bandul yang bergerak mengikuti gerak harmonik sederhana. Bandul matematis merupakan benda ideal yang terdiri dari sebuah titik massa yang digantungkan pada tali ringan yang tidak bermassa.
Dalam kehidupan kita sering menggunakan hukum-hukum fisika untuk membantu kita dalam melakukan banyak hal. Salah satu hukum yang sering dipakai yaitu hukum hooke, yaitu hukum yang digunakan untuk mencari besar konstanta pada pegas dengan memperhitungkan pengaruh dari gaya yang diberikan pada benda dan massa benda itu sendiri.
Untuk Praktikum multimeter sendiri dilakukan agar dapat memahami cara menentukan hambatan dengan hukum Ohm. Misalnya kita bisa menghitung berapa tegangan dari suatu baterai, bisa menghitung hambatan suatu baterai.[1]
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan dalam praktikum ini sebagai berikut:
1.    Bagaimana mempelajari kegunaan alat ukur panjang dengan ketelitian tinggi  ( jangka sorong).
2.    Bagaimana mempelajari kegunaan alat ukur ketebalan suatu benda tipis dengan ketelitian tinggi ( mikrometer sekrup)
3.    Bagaimana cara menentukan besar percepatan gravitasi pada bandul matematis
4.    Bagaimana menentukan konstanta kekuatan pegas berdasarkan Hukum Hooke.
5.    Bagaimana besarnya hambatan dalam pada suatu baterai.
6.    Bagaimana memahami asas kerja ayunan matematis dan getaran selaras.
7.    Bagaimana penggunaan multimeter digital

C.  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini sebagai berikut:
1.      Untuk mempelajari kegunaan alat ukur panjang dengan ketelitian tinggi (jangka sorong).
2.      Untuk mempelajari kegunaan alat ukur ketebalan suatu benda dengan ketelitian tinggi (mikrometer sekrup).
3.      Untuk memahami dan menentukan besar percepatan gravitasi.
4.      Untuk menentukan konstanta kekuatan pegas berdasarkan Hukum Hooke.
5.      Untuk menentukan besar hambatan dalam pada suatu baterai dengan pendekatan persamaan tegangan jepit.
6.      Untuk memahami asas kerja ayunan matematis dan getaran selarasnya.
7.      Untuk memahami jenis-jenis dan penggunaan multimeter.

D.    Manfaat Praktikum
Adapun Manfaat praktikum sebagai berikut:
1.      Bagi mahasiswa (praktikum)
a.    Mahasiswa dapat memahami cara membaca skala dalam penggunaannya dan menentukan besarnya suatu besaran fisis yang dapat diukur dengan jangka sorong
b.    Mahasiswa dapat memahami cara membaca skala dalam penggunaannya dan menentukan besarnya suatu besaran fisis yang dapat diukur dengan mikrometer sekrup.
c.    Mahasiswa dapat memahami dan menentukan besar dan percepatan gravitasi
d.   Mahasiswa dapat memahami azaz kerja ayunan matematis dan getaran selaras
e.    Mahasiswa dapat menentukan besarnya konstanta pegas dengan metode osilasi dan perubahan panjang pegas
f.     Mahasiswa dapat memahami konsp hukum hooked an elastisitas pegas.
g.    Mahasiswa dapat menentukan besarnya hambatan dalam suatu baterai dengan pendekatan persamaan tegangan jepit.
h.    Mahasiswa dapt memahami jenis-jenis dan penggunaan multimeter.

2.      Bagi Asisten / Pembimbing
a.    Menambah pengalaman belajar mengajar
b.    Memperdalam  ilmu sekaligus mengulang atau memuthalaah ilmunya
c.    Belajar membimbing dan mengajar
d.   Melatih kesabaran dan belajar dari kesalahan.
3.      Bagi Laboran (Pengelola Laboratorium).
a.    Pengelola laboratarium dapat mengaktifkan saran dan sarana laboratarium sesuai dengan aturan di jurusan pendidikan matematika.
b.    Pengelola labaratarium dapat mengetahui mahasiswa yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi dan yang memiliki kemampuan di kegiatan praktikum di laboratarium di Jurusan Pendidikan Matematika.bidang sains.
c.     Pengelola laboratarium dapat mengadakan silaturrahmi dengan mahasiswa selama praktikum.




















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.      Pengukuran
1.    Mistar
a.    Pengertian
Mistar dan meteran merupakan alat ukur yang digunkan untuk mengukur besaran panjang.
b.    Jenis – Jenis Mistar
1)   Penggaris
Penggaris merupakan alat ukur panjang dan alat bantu gambar untuk menggambar garis lurus. Alat ukur yang satu ini banyak sekali digunakan secara universal, baik untuk keperluan pengukuran atau hal lainnya, Pada umumnya, mistar memiliki skala terkecil 1 mm atau 0,1 cm. Mistar mempunyai ketelitian pengukuran 0,5 mm, yaitu sebesar setengah dari skala terkecil yang dimiliki oleh mistar.
2)   Meteran gulung
Meteran gulung atau Rollmeter merupakan alat ukur panjang
 yang dapat digulung, dengan panjang 25 – 50 meter.
Ketelitian pengukuran dengan rollmeter 0,5 mm. Meteran ini
biasanya dibuat dari plastik atau pelat besi tipis.
3)   Mistar pita
Mistar pita adalah alat yang digunakan untuk mengukur panjang suatu benda, hanya saja bentuknya yang berbentuk pita, fungsi dibuatnya mistar berbentuk pita adalah agar memudahkan mengukur diameter suatu benda yang ukurannya besar. Mistar berebntuk pita ini sering digunkan oleh tukang jahit pakaian, untuk mengukur diameter lingkaran lengan maupun pinggang manusia. Mistar pita ini memiliki panjang tidak kurang dari 2 m. Bahan yang sering digunakan untuk mistar pita ini adalah karet dengan warna yang berfariasi.

4)   Mistar lipat
Selain yang bisa digulung dan berbentuk pita, ada juga mistar yang bisa dilipat atau sering disebut sebagai mistar lipat. Mistar lipat ini ditemukan oleh Anton Ullrich pada 1851. Mistar lipat ini digunakan oleh tukang kayu, akan tetapi sekarang mistar seperti itu jarang ditemukan karena sudah ada mistar rol yang lebih praktis.mistar ini memiliki fungsi mengukur panjang suatu benda, sama seperti fungsi mistar pada umumnya.
2.    Jangka sorong
a.    Pengertian
Jangka sorong adalah suatu alat ukur panjang yang dapat dipergunakan untuk mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian hingga 0,1 mm.[2] 
Jangka sorong memiliki beberapa bagian, yaitu rahang atas yang berfungsi untuk mengukur diameter dalam. rahang bawah berfungsi untuk mengukur diameter luar. . Pengunci berfungsi untuk mengunci suatu benda agar benda dapat diapit dan tidak perpindah-pindah[3].      
b.    Jenis-jenis jangka sorong
Adapun jenis-jenis jangka sorong yang dapat digunakan untuk mengukur panjang adalah sebagai berikut:
1)   Jangka sorong manual dengan ketelitian 0,1mm = 0,01 cm
2)   Jangka sorong analog dengan ketelitian 0,05 mm = 0,005 cm
3)   Jangka sorong digital dengan ketelitian 0.01 mm = 0,001 cm
c.    Penggunaan
1. Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit
2. Untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa                        lubang (pada   pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur.
3. untuk mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda                                                  dengan cara menancapkan / menusukkan bagian pengukur.

d.   Cara penggunaan
Cara menggunakan jangka sorong adalah sebagai berikut :
1.    Mengukur panjang benda
Untuk mengukur panjang benda dapat dilakukan dengan langkah berikut :
Geser rahang geser jangka sorong sedikit kekanan sedemikian sehingga benda yang akan diukur dapat masuk diantara kedua rahang. Geser rahang geser kekiri sehingga benda tepat terjepit oleh kedua rahang.
2.    Mengukur ketebalan benda
Untuk mengukur ketebalan benda dapat dilakukan dengan langkah berikut :
Geser rahang geser jangka sorong sedikit kekakan sehingga benda yang akan diukur ketebalannya dapat masuk diantara kedua rahang. Geser rahang geser kekiri sehingga benda terjepit oleh kedua rahang.
3.    Mengukur diameter dalam benda
Untuk mengukur diameter dalam suatu benda dapat dilakukan dengan langkah berikut :
Menggeser rahang geser jangka sorong sedikit kekanan
benda yang akan diukur sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong masuk kedalam benda tersebut. Geser rahang geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh kedua dinding dalam benda.
4.    Mengukur diameter luar benda
Untuk mengukur diameter luar benda dapat dilakukan dengan langkah berikut :
Menggeser rahang jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur dapat masuk diantar kedua rahang. Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang. Geser rahang geser kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur terjepit oleh kedua rahang.
5.    Mengukur kedalaman benda
Untuk mengukur kedalaman suatu benda dapat dilakukan dengan langkah berikut :
      Letakkan benda atau tabung yang akan diukur dalam posisi tegak Putar jangka sorong yang dalam keadaan tegak kemudian letakkan ujung jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya. Geser rahang geser kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong mengenai dasar tabung.
e.    Rumus dan keterangan
Persamaan untuk jangka sorong adalah sebagai berikut:
X = Su + Sn
Dengan:
        Su= skala utama
        Sn= skala nonius
3.      Mikrometer Skrup
a.    Pengertian
Mikrometer sekrup merupakan alat yang biasa digunakan untuk mengukur ketebalan benda-benda yang tipis seperti kertas, uang logam, mistar dan sebagainnya, alat ini juga lebih teliti sepuluh kali dari jangka sorong yaitu sampai 0,01 mm. Bagian utama mikrometer sekrup adalah poros berulir, dipasang pada silinder pemutar atau bidal. Keliling silinder pemutar dibagi menjadi 50 bagian dengan skala yang sama besar. Bidal akan bergerak maju 0,5 mm jika diputar satu kali putaran, dengan demikian jika bidal diputar satu skala, maka akan bergeser  = 0,01 mm atau 0,001 cm[4].
Mikrometer terdiri atas 2 skala, yaitu:
1)         Skala tetap
        Skala tetap terbagi satuan (mm), skala ini terdapat pada laras dan    terbagi dua skala yaitu skala atas dan skala bawah.
2)         Skala putar
        Skala ini terdapat pada besi penutup laras yang dapat berputar 360  derajat dapat bergeser ke depan atau ke belakang. Skala putar         dibagi menjadi 50 skala atau bagian sama yaitu 1 kali putaran skala        putar akan bergeser 0,5 mm ke depan atau ke belakang, maka          setiap kita memutar skala  0,5/50 x 1 mm atau sama dengan 0,01      mm. Cara menggunakan mikrometer sekrup.[5]
b.    Jenis-jenis micrometer sekrup.
Mikrometer memiliki 3 jenis umum pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi berikut yaitu:
1.    Mikrometer Luar
Alat ukur yang dapat mengukur dimensi luar dengan cara membaca jarak antara dua muka ukur sejajar yang berhadapan, yaitu sebuah muka ukur tetap yang terpasang pada satu sisi rangka berbentuk U, dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat bergerak tegak lurus terhadap muka ukur, dan dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle. Mikrometer luar digunakan untuk ukuran memasang kawat, lapisan-lapisan, blok-blok dan batang-batang.

2.    Mikrometer dalam
Alat ukur yang dapat mengukur dimensi dalam dengan cara membaca jarak antara dua muka ukur sferis yang saling membelakangi, yaitu sebuah muka ukur tetap yang terpasang pada batang utama dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat bergerak searah dengan sumbunya, dan dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle. Mikrometer sekrup dalam digunakan untuk mengukur garis tengah dari lubang suatu benda.
3.    Mikrometer kedalaman
Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kerendahan dari langkah-langkah dan slot-slot.
c.    Penggunaan
1.    Mikrometer sekrup biasa digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda. Misalnya tebal kertas. Selain mengukur ketebalan kertas.
2.    Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter kawat yang kecil.
d.   Cara penggunaan
Untuk menggunakan micrometer sekrup dapat dilakukan dengan langkah berikut :
1.    Putar bidal (pemutar) berlawanan arah dengan arah jarum jam sehingga ruang antara kedua rahang cukup untuk ditempati benda yang akan diukur.
2.    Letakkan benda di antara kedua rahang.
3.    Putar bidal (pemutar) searah jam sehingga saat poros  hamper menyentuh benda, pemutaran dilakukan dengan menggunakan roda bergigi agar poros tidak menekan benda. Dengan memutar roda berigi ini, putaran akan berhenti segera setelah poros menyentuh benda. Jika sampai menyentuh benda yang diukur, pengukuran menjadi tidak teliti.
4.    Putar sekrup penggeser hingga terdengar bunyi klik satu kali.
5.    Baca hasil pengukuran pada skala utama dan skala nonius
e.    Rumus dan keterangan
Hasil pengukuran pada skala utama dan skala nonius dapat ditentukan dengan rumus :
X = Su + (Sn x ketelitian)
Dengan :
        Su= Skala utama
Sn= Skala nonius

B.  Bandul Matematis
       Matematis adalah sebuah benda yang digunakan pada tali ringan yang mempunyai panjang tetap. Bandul matematis adalah salah satu sistem fisis yang bergerak mengikuti gerak harmonik sederhana. Bandul matematis adalah bandul ideal yang terdiri dari sebuah titik massa yang digantungkan pada tali ringan yang tidak mulur dan tidak bersama. Bila bandul disimpangkan dengan sudut (α) dari posisi setimbang lalu dilepaskan, maka bandul akan berayun pada bidang vertikal karena pengaruh gaya gravitasi bumi[6].
       Bandul Pada bandul terdapat gerak osilasi. Gerak osilasi adalah gerak bolak-balik suatu benda yang apabila disimpangkan dengan sudut Alpha (α) kemudian benda tersebut dilepaskan maka akan berayun dalam bidang vertikal dan akan kembali ke titik awal karena pengaruh gaya gravitasi.
            Pada bandul terdapat gerak osilasi adalah variasi periodik umumnya terdapat waktu dari suatu hasil pengukuran istilah vibrasi sering digunakan sebagai sinonim osilasi, walaupun sebenarnya vibrasi menunjuk pada jenis spesifik osilasi mekanisme. Osilasi tidak hanya terjadi pada suatu sistem fisik, tetapi juga pada sistem biologi dan bahkan dalam masyarakat. Contoh gerak osilasi (getaran) adalah gerak osilasi bandul. Bandul matematis (sederhana) terdiri dari seutas tali ringan dan sebuah bola kecil (bola bandul) mermassa m yang digantungkan pada ujung tali. Dalam menganalisis gerakan bandul matematis, gaya gesekan udara kita abaikan dan massa sangat kecil sehingga dapat diabaikan relatif terhadap bola[7]. Gerak harmonik atau getaran selaras adalah gerak bolak balik secara periodik di sekitar kedudukan seimbang.[8] Periode (T) adalah waktu yang di butuhkan untuk melakukan suatu geratan frekuensi (F) atau bilangan getar adalah banyak geratan tiap detik. Secara matematis dirumuskan dengan persamaan:
T =
g =
                                      
atau


Dengan:
T = periode ( s )
l =  panjang tali ( m )
g = percepatan gravitasi ( m /s )
Hubungan antara periode dengan frekuensi adalah
f = 
T =
 
                                                                  atau
                                                   

Dengan :          
            f = frekuensi (Hz)
       T= periode (sekon)
   Berdasarkan persamaan diatas, tampak bahwa periode dan frekuensi getaran pendahuluan sederahana bergantung pada panjang tali dan percepatan gravitasi. Karena percepatan gravitasi bernilai tetap, maka periode sepenuhnya hanya bergantung pada panjang tali (L). Dengan kata lain, periode dan frekuensi pendulum tidak bergantung pada massa beban alias bola pendulum.[9]
   Jika sebuah bandul berayun pada suatu titik tetap (titik seimbang) simpangannya dapat membesar dan mengecil secara berulang-ulang. Simpangan terbesar dari ayunan tersebut disebut ampluida. Ampluida adalah simpangan terbesar dari suatu getaran.
   Pada dasarnya setiap benda di dalam melakukan getaran-getaran yang di sebut getaran alami, getaran setiap benda tidak selalu bisa di amati menggunakan mata melalui getarannya. Apabila simpangan getaran atau amplitudo getaran sangat kecil maka gerakan tidak teramati oleh mata. Berat benda adalah gaya tarik gravitasi yang di alami benda tersebut (gravitasi bumi selalu berarah tegak lurus kebawah) tegangan dalam tali adalah gaya tarik tali pada sebuah benda terikat pada tali tersebut[10].
Penggunaannya  yaitu Jika sebuah benda yang digantungkan pada seutas tali, diberikan simpangan, lalu dilepaskan, maka benda itu akan berauyn kekanan dan ke kiri. Berarti ketika benda berada disebelah kiri akan dipercepat kekanan, dan ketika benda sudah ada disebelah kanan akan diperlambat dan berhenti, lalu dipercepat kekiri dan seterusnya. Dari gerakan ini dilihat bahwa benda mengalami percepatan selama gerakan nya. Menurut hukum Newton (F = m.a) percepan hanya timbul ketika ada gaya. Arah percepatan dan arah gaya selalu sama.

C.  Hukum Hooke
Pegas merupakan salah satu contoh benda elastis. Elastis atau elastisitas adalah kemampuan sebuah benda untuk kembali ke bentuk awalnya ketika gaya luar yang diberikan pada benda tersebut dihilangkan. K adalah konstanta dan x adalah simpangan. Tanda negatif menunjukkan gaya pemulih F mempunyai arah berlawanan dengan simpangan x. Hukum ini dicetuskan oleh Robert Hooke (1635-1703)[11].
Besar gaya yang diberikan pada benda memiliki batas-batas tertentu.jika gaya sangat besar maka regangan benda sangat besar sehingga akhirnya benda patah. Pemberian gaya  sebesar F pada beban menyebabkan pegas mengalami perubahan pannjang sebesar x. Gaya ini akan diimbangi oleh adanya gaya pengembali pada pegas atau dapat dinyatakan bahwa besarnya gaya pengembali yang dialami oleh  pegas berbanding lurus dengan pertambahan panjang pegas (rentangannya). Pernyataan ini dikenal sebagai hukum Hooke. Secara matematis pernyataan Hooke dapat ditulis:[12]

                                                                                                              
Dimana:                                                                                                                         F          = gaya pengembali (N)                                     
     k        = konstanta pegas(N/m)                       
                           = regangan pegas                   

                   Jika sebuah benda direngangkan, maka pegas akan menarik balik dengan gaya F (gaya pemulih) yang berbanding lurus dengan renggangan tersebut. Demikian pula jika dipasangkan benda pada pegas tersebut, kemudian dlepaskan maka benda akan begerak bolak-balik. Setelah diberi beban sebesar m, dan pegas kita getarkan yaitu dengan cara menarik pada jarak tertentu lalu dilepaskan, maka waktu getar getaran selaras pegas atau periode dirumuskan:

T =

 
atau                               


     Dimana:
          f=frekuensi
  T=Periode
  m=massa beban
   k=konstanta pegas
Dalam menentukan suatu konstanta pegas dan simpangan pada gerak harmonik, ada beberapa istilah yang perlu diketahui terlebih dahulu, misalnya periode dan frekuensi. Periode adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan satu kali bolak-balik. Sedangkan frekuensi adalah banyak gerak bolak-balik sehingga didapatkan persamaan:[13]
T =

f =
                                                   
                                                    atau      
Dimana :
              f = frekuensi (Hz)                                                                                            T= periode (sekon)
D.  Hambatan dalam Baterai
Baterai merupakan salah satu komponen elektronika yang dapat mensuplai tegangan listrik (DC). Meskipun demikian suatu sumber tegangan maupun sumber arus listrik tetap memiliki hambatan di dalamnya atau sering disebut dengan hambatan dalam. Hambatan dalam suatu sumber tegangan listrik (baterai) dapat diukur (diuji) melalui prinsip hukum Ohm.[14].
Hambatan dalam baterai adalah suatu hambatan yang dimiliki dan memang berada di dalam baterai itu sendiri. Hambatan dalam baterai  juga merupakan suatu halangan yang selalu ada untuk muatan yang mengalir bebas di dalam elektrolit antara elektroda-elektroda baterai[15].                              Rangkaian terbuka adalah suatu rangkaian listrik yang memiliki ujung-ujung rangkaian. Rangkaian tertutup adalah suatu rangkaian listrik yang tidak memiliki ujung rangkaian arus listrik (I), terus mengalir hingga tegangan (V) habis. secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
 
                                                                                                                                                                                   
               
 
                                                                                                     
Dimana:
E          = sumber tegangan baterai (volt)
I           = arus listrik yang timbul dalam rangkaian (mA)
V         = tegangan luar atau tegangan jepit (volt)
r           = hambatan dalam baterai (ohm)
Rv        = hambatan variable (ohm)
Dengan demikian besarnya hambatan dalam baterai dapat dinyatakan dengan:

 


 



Jenis-jenis jangka sorong
Penggunaan
Cara penggunaan
Rumus dan keterangan
E.  Penggunaan Multimeter
1.        Pengertian
Ammeter digunakn untuk mengukur arus, dan voltmeter untuk mengukur beda potensial atau tegangan. Bagian yang paing penting dari ammeteratau volt meter analog, dimana pembacaan ditujukkan dengan jarum penunjuk pada suatu skala, adalah galvanometer. Galvanometer bekerja dengan prinsip gaya anatara medan magnet dan kumparan kawat pembawa arus. Untuk saat ini kita perlu mengetahui penyimpangan jarum galvameter sebanding dengan arus yang melewatinya. Sesitivitas arus skala_penuh, Im, dari sebuah galvanometer merupakan arus yang dibutuhkan agar jarum menyimpang dengan skala penuh. Jika sensitivitas Im adalah 50 A , arus sebesar 50 µA akan menyebabkan jarum bergerak ke ujung skala.Arus 25 µA akan menyebabkannya menyimbpang setengah skala penuh. Jika tidak ada arus, jarum seharusnya berada diangka 0 , dan biasanya ada sekrup penyesuai untuk membuat situasi seperti itu.
Banyak meteran yang kita lihat sehari-hari yang merupakan galvanometer yang terhubung ke ammeter atau voltmeter seperti sejumlah metern pada panel instrumen mobil.
Galvanometer dalat digunakan langsung untuk mengukur arus dc yang kecil. Sebagi contoh , galvanometer dengan sensitifitas Im 50 µA dapat mengukur arus dari sekitar 1 µA ( arus yang lebih kecil dari ini akan sulit terbaca pada skala) sampai 50 µA. Untuk mengukur arus yang lebih besar sebuah resistor dipasang paraler dengan galvometer. Ammeter merupakan galvanometer yang dihubungkan paraler dengan resistor ( Shunt ) dengan hambatan , R , yang rendah. Disebut resistor shunt , (“shunt” adalah persamaan kata “paraler dengan”). Hambatan shunt adalagh R , dan hambatan kumparan galvanometer ( yang membawa arus) adalah r .Nilai R dipilih menurut penyimpangan skala_penuh yang diingkan dan biasanya sangat kecil mengakibatkan hambatan dalam ammeter sangat kecil pula.
Alat ukura yang dibahas diatas adalah untuk arus searah. Jika arus bolak-balik melalui meteran-metera ini, pembacaan akan naik turun dengan cepat, atau mungkin tidak bergerak sama sekali karena perubahan bolak balik akan terlalu cepat. Meteran dc seperti dibahas diatas dapat dimodifikasi untuk mengukur ac dengan menambahkan dioda yang memungkin arus mengalir ke satu arah saja. Arus satu arah yang dihasilkan bisa dibca dengan meteran. Meteran ac dapat dikalibrasi untuk membaca nilai rms atau puncak.
Misalkan anda ingin menentukan arus i pada rangkaian pengukuran arus dengan tegangan dan tegangan V pada resistor R1. Karena ammeter digunakan untuk mengukur arus yang melalui rangkaian , ia harus dipasng langsung ke dalam rangkaian terusun seri dengan elemen-elemn lain. Semakin kecil hambatan dalamnya maka semakin kecil pengaruhnya terhadap rangkaian. Dipihak lain, sebuah voltmeter dihubungkan paralel dengan elemen rangkaian yang tegangannya akan diukur. Volt meter digunakan untuk mengukur beda potensial anatar dua titik dan kedua ujung kawatnya (kawat penghubung) dihubungkan kedua titik tersebut, dimana tegangan tegangan R1 sedang diukur. Semakin besar hambatan dalamnya semakin kecil pengaruhnyaterhadap rangkaian yang diukur.
            Volmmeter dan ammeter mempunyai beberapa resisitor seri atau shun untuk emberikan suatu jangkauan (range pilihan). Multimeter dapat megukur tegangan , arus, dan hambatan. Kadang-kadang disebut VOM ( Vol-Ohm-Meter). Meteran dengan pembacaan digital disebut volt meter digital ( DVM ) atau multimeter digital ( DMM ). Untuk mengukur hambatan , meteran harus berisi batrai dengan tegangan yang diketahui yang dihubungkan seri ke resistor ( Rser ) dan ke ammeter ( terdiri dari galvanometer dengan hambatan r dan resistor shunt Rsh ). Cara ini menghasilkan sebuah ohmmeter. Resistor yang hambatannya akan diukur menutup rangkaian ini. Dalam hal ini simpangan berbanding terbalik dengan hambatan. Dengan demikian, jika hambatan kecil simpangan besra, dan sebaliknyakalibrasi skla bergantung pada nilai resistor seri. Karen ohmmeter mengirimkan arus melalui alat yang hambatannya akan diukur, ia seharusnya tidak digunakan pada alat yang peka yang dapat dirusak oleh arus tersebut[16].
2.    Jenis-jenis Multimeter
b.    Multimeter Analog
   Multimeter Analog atau Multimeter Jarum adalah alat pengkur besaran listrik yang menggunakan tampilan dengan jarum yang bergerak ke range-range yang kita ukur dengan probe. Analog tidak dii gunakan untuk mengukur secara detail suatu besaran nilai komponen tetapi kebanyakan hanya di gunakan untuk baik atau jeleknya komponen pada waktu pengukuran atau juga di gunakan untuk memeriksa suatu rangkaian apakah sudah tersambung dengan baik sesuai dengan rangkaian blok yang ada.
c.    Multimeter Digital
Multimeter yang nilainya ukurnya ditunjukkan secara langsung berupa angka-angka.
3.         Penggunaan
a.    Mengukur nilai Hambatan.
b.    Mengukur nilai Dioda.
c.    Mengukur nilai Transistor.
d.    Mengukur tegangan AC.
4.    Cara penggunaan
a.              Atur multimeter ke mode ohm atau tahanan. Hidupkan multimeter ke mode ON jika ia memiliki saklar daya terpisah. Ketika multimeter mengukur tahanan dalam ohm, ia tidak dapat mengukur kontinuitas karena tahanan dan kontinuitas berlawanan. Ketika ada sedikit tahanan, kontinuitas akan besar, dan sebaliknya. Dengan ini, kamu dapat membuat asumsi tentang kontinuitas berdasarkan nilai-nilai tahanan yang diukur.
Cari skala Ohm pada pemutar. Pada multimeter analog, skala ini biasanya terletak paling atas dan memiliki nilai tertinggi pada sisi kiri ("∞", tak berhingga) yang secara bertahap berkurang hingga 0 di sebelah kanan. Ini berkebalikan dari skala lain, yang memiliki nilai terendah di sebelah kiri dan tertinggi sebelah kanan.
b.    Amati indikator multimeter. Jika kabel pengukuran tidak terhubung dengan apa pun, jarum atau penunjuk dari multimeter analog akan diam di posisi paling kiri, menandakan nilai tahanan tak berhingga atau "rangkaian terbuka." Hal ini aman dan berarti tidak ada kontinuitas atau sambungan arus antara kabel hitam dan merah.
c.     Hubungkan kabel pengukuran. Hubungkan kabel hitam ke jack yang ditandai "Common" atau "-". Kemudian, hubungkan kabel merah ke jack yang ditandai dengan (simbol Ohm) Omega atau huruf "R" di dekatnya.
d.    Sentuhkan masing-masing ujung kabel pengukuran dengan satu sama lain. Penunjuk multimeter akan bergerak ke arah kanan. Cari kenop pengatur nilai nol bertanda Zero Adjust, tekan dan putar sehingga meteran menunjukkan "0" (atau mendekati "0" sebisa mungkin).
1).  Perhatikan bahwa posisi ini adalah "rangkaian pendek" atau "0 ohm"  indikasi untuk rentang R x 1 ini.
2). Selalu ingat untuk "menge-nol-kan" meteran segera setelah perubahan tahanan atau kamu akan menemukan kesalahan penunjukan nilai.
3). Jika kamu tidak dapat mencapai nilai 0 ohm, hal ini dapat berarti                      baterai lemah dan harus diganti. Coba lagi melakukannya dengan     baterai baru.
4). Ukurlah tahanan dari sesuatu, misalnya bola lampu yang masih baik. Cari dua titik kontak listrik dari bola lampu. Mereka akan menjadi anoda dan katoda.
5). Coba rentang yang berbeda. Ubah rentang pengukuran ke R x 1. Nol-kan kembali multimeter untuk rentang ini dan ulangi langkah di atas. Amati pergerakan meteran ke kanan yang tidak secepat sebelumnya. Skala tahanan telah diubah sehingga setiap nomor pada skala R dapat dibaca langsung.
6). Test tahanan di tangan. Gunakan rentang pembacaan R setinggi mungkin dan nolkan multimeter.
7). Pastikan pembacaan nilai telah akurat. Penting memastikan bahwa ujung kabel pengukuran tidak menyentuh apa pun selain perangkat yang sedang diuji. Perangkat yang telah terbakar tidak akan menunjukkan "rangkaian terbuka" pada meteran saat pengujian jika jarimu memberikan jalur alternatif penghantaran arus, seperti ketika menyentuh ujung kabe[17].

BAB III
HASIL PRAKTIKUM

A.  Penggukuran
1.    Pelaksanaan
Hari, tanggal      :Ahad, 27 september 2015
Waktu                :11.30 – 12.30 WITA
Tempat               :R. B. II. 4.  lantai 2 gedung B fakultas tarbiyah                                                        IAIN mataram
2.    Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum yang didapat ditarik dalam praktikum pengukuran (jangka sorong dan micrometer sekrup) sebagai berikut:
a.    Memahamani dan mempelajari alat ukur yang beketelitian tinggi
b.    Memahami cara membaca skala dalam penggunaannya dan menentukan   pembacaan skala besarnya suatu besaran.
3.    Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
               Adapun alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada tabel 3.1 di bawah ini,
Tabel 3.1 Tabel Alat dan bahan praktikum jangka sorong
NO
Alat
Bahan
1
Jangka sorong
Penghapus
2
Mistar
Uang logam
3
Mikrometer skrup
Uang tasker
4

Buku tulis

4.     Langkah-langkah Kerja
Adapun langkah-langkah kerja yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a.    Jangka sorong
1)   Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2)   Memutar kunci ke kiri untuk membuka rahang sorong
3)   Memasukkan benda ke rahang bawah jangka sorong dan menggeser rahang agar menjepit pada benda
4)   Menghitung panjang, lebar dan tinggi benda dengan memperhatikan skala utama dan skala nonius
5)   Mengulangi langkah kerja ke 4 sebanyak tiga kali percobaan
6)   Mencatat hasil pengukuran atau praktikum pada tabel  percobaan
b.    Mistar
1)   Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang diperlukan.
2)   Mengukur panjang, tinggi dan lebar benda dengan menggunakan mistar
3)   Mengulangi langkah ke 2 sebanyak tiga kali
4)   Mencatat hasilpercobaan atau  prakikum pada table percobaan
c.    Mikrometer sekrup
1)   Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang diperlukan.
2)   Memutar pengunci dan pasttikan dalam keadaan terbuka.
3)   Membuka rahang dengan cara memutar ke kiri pemutar sehingga benda dapat dimasukkan ke rahang.
4)   Meletakkan benda yang diukur ke dalam rahang kemudian menutup rahangg dengan cara memutar ke kanan pemutar sehingga benda dapat dijepit oleh rahang.
5)   Memutar pengunci sehingga skala putar tidak dapat digerakkan.
6)   Menghitung tebal benda.
7)   Mengulangi langkah ke 4 sampai tiga kali.
8)   Mencatat hasil pengukuran.






5.    Hasil Pengamatan
a.    Gambar Hasil Praktikum
2
Gambar
Keterangan
1
8
7
6
5
4
3
1.Uang logam
2.Uang kertas
3.gelas kimia
4.Mikrometer sekrup
5.Jangka sorong
6.Penghapus
7.Buku tulis
8.Mistar
Gambar 3.1 Gambar hasil praktikum pengukuran
b.    Data hasil pengamatan
1)   Jangka Sorong
Tabel 3.2 Tabel hasil pengukuran penghapus
NO
Benda yang diukur
Pengukuran jangka sorong
Pengukuran mistar
Selisih
1
2
3
R
1
Panjang
2,35
Cm
2,25
Cm
2,25
cm
2,283 cm
2,5 cm
0,217 cm
2
Lebar
1,85
Cm
1,75
Cm
1,75
cm
1,783
cm
1 cm
0,783
Cm
Cm
3
Tinggi
1,07
Cm
1,07
1,07
cm
1,07
cm
1,5 cm
0,43




Tabel 3.3 Tabel hasil pengukuran gelas kimia
NO.
Diameter benda yang diukur
Pengukuran jangka sorong
Penguran mistar
Selisih
1
2
3
R
1
Diameter dalam
9,32
Cm
9,32
Cm
9,32
cm
9,32
cm
7,5 cm
1,82 cm
2
Diameter luar
0,78
Cm
0,78
Cm
0,78
cm
0,78 cm
6,8 cm
5,75
Cm
3
Kedalaman
6,87
Cm
6,87
Cm
6,87
cm
6,87
cm
9,3
cm
2,43
Cm

2)   Mikrometer Sekrup
Tabel 3.4 Tabel Pengukuran penghapus
NO
Benda yang diukur
Pengukuran menggunakan micrometer sekrup
1
2
3
4
1
Uang logam
0,3 mm
0,3 mm
0,3 mm
0,3 mm
2
Uang kertas
0,3 mm
0,3 mm
0,3 mm
0,3 mm
3
Buku tulis
0,35 mm
0,35 mm
0,35 mm
0,35 mm

c.    Analisis data
a)    Pengukuran  penghapus menggunakan micrometer sekrup
Hasil pengukuran pada percobaan pertama, kedua dan ketiga mendapatkan hasil yang sama baik pada pengukuran uang logam,uang kertas maupun buku tulis.
1). Uang logam
Su = 0,1 mm
Sn = 20 x 0,01
     = 0,2 mm
X = 0,1 + 0,2
    = 0,3 mm
2). Uang kertas
Su= 0 mm
Sn = 3 x 0,01
     = 0,03 mm
X = 0 + 0,03
    = 0,03 mm
3). Buku tulis
Su = 0,1 mm
Sn = 25 x 0,01
      = 0,25 mm
X = Su + Sn
     = 0,1 + 0,25
     = 0,35 mm

b)   Pengukuran penghapus menggunakan jangka sorong
Percobaan pertama
1). Panjang
Su = 2,3 cm
Sn = 5 x 0,01
     = 0,05 cm
X = Su + Sn
     = 2,3 + 0,05
     = 2,35 cm
2). Lebar
Su = 1 cm
Sn = 7 x 0,01
     = 0,07 cm
X = Su + Sn
     = 1 + 0,07
     = 1,07 cm
Percobaan kedua dan ketiga memiliki hasil pengukuran yang sama
1). Panjang
Su = 2,2 cm
Sn = 5 x 0,01
      = 0,05 cm
X = Su + Sn
     = 2,2 + 0,05
      = 2,25 cm
2). Lebar
Su = 1,7 + 0,05
 Sn = 5 x 0,01
      =  0,05 cm
X =  1,7 + 0,05
    = 1,75 cm
3). Tinggi
Su = 1 cm
Sn = 7 x 0,01
     = 0,07 cm
X = Su + Sn
    = 1 + 0,07
    = 0,07 cm

Pengukuran kedalam, diameter dalam dan diameter luar gelas kimia menggunakan jangka sorong
Keterangan : Hasil pengukuran pertama sampai ketiga memiliki ukuran yang sama.
1). Kedalaman
Su = 9,3 cm
Sn = 2 x 0,01
     = 0,02 cm
X = 9,3 + 0,02
    = 9,32 cm
2). Diameter luar
Su = 6,8 cm
Sn = 7 x 0,01
     = 0,07 cm
X = Su + Sn
    = 6,8 + 0,07
    = 6,87 cm
3).Diameter dalam
Su = 0,7 cm
Sn = 8 x 0,01
     = 0,08 cm
X = 0,07 + 0,08
    = 0,78 cm

6.    Pembahasan
Jangka sorong dan mikrometer skrup adalah alat ukur yang mempunyai ketelitian 0,1 mm dan 0,01 mm,kedua alat ini mempunyai dua bagian yaitu rahang tetap dan geser dan mempunyai dua skala yaitu skala utama dan sekala nonius.
Dari hasil praktikum dapat di deskripsikan bahwah jangkia sorong, dan mikrometer skrup banyak di gunakan untuk mengukur benda yang tergolong kecil. Sedangkan untuk mengukur benda – benda yang besar, biasanya di gunakan mistar
Pengukuran yang memiliki ketelitian paling tinggi adalah pengukuran dengan menggunakan alat mikrometer skrup karena ketelitiannya mencapai 0,01 mm sedangkan alat yang memiliki kesalahan paling tinggi adalah mistar, karena hanya memiliki ketelitian 0,1 cm
Pada praktikum ini kita melakukian pengukuran menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup. Pada alat jangka sorong berfungsi untuk mengukur ketebalan suatu benda,diameter suatu benda, baik diameter dalam maupun luar
Ketika pengukuran dapat terjadi kesalahan atau ketidak pastian, cara memberikan nilai skala pada waktu pembuatan alat tidak tepat sehingga berakibat setiap kali alat digunakan suatu ketidak pastian melekat pada hasil pengukuran.Tidak hanya itu gesekan-gesekan selalu timbul antara bagian yang satu yang bergerak terhadap benda yang lain.
   Dalam pengukuran menggunakan jangka sorong tidak selamanya antara percobaan pertama dan kedua akan sama, seperti pada table di atas dalam pengukuran panjang, lebar dan tinggi penghapus pertama dengan hasil pengukuran 2,35 dan pada percobaan kedua dengan ketiga 2,25 untuk panjang. Perbedaan ini disebabkan oleh tekanan rahang tetap dengan rahang geser yang longgar atau terlalu ditekan.
   Sedangkan micrometer yang kami gunakan adalah micrometer dengan ketelitian 0,01 mm, sebagaimana jangka sorong, multimeter sekrup juga memiliki dua skala yaitu skala tetap dan skala geser[18]
7.    Simpulan
Dari praktikum pengukurandengan jangka sorong, kita dapat melakukan pengukuran pada benda-benda yang berdimensi kecil dengan menggunakan alat yang memiliki ketelitian tinggi seperti jangka sorong dan micrometer sekrup. Kitajuga dapat mengetahui bagaimana cara membaca skala dan penggunaannya dan dapat mengetahui ukuran benda yang kita ukur.
B.  Bandul Matematis
1.    Pelaksanaan
a.    Hari, tanggal :Ahad, 27 September 2015
b.    Waktu           :08.00 – 09.07 WITA
c.    Tempat          :R. B. II. 2. Lantai 2 gedung B fakultas tarbiyah                                                         IAIN Mataram


2.    Tujuan Praktikum
a.    Untuk mengetahui azas kerja bandul matematis dan getaran selaras
b.    Memahami dan menentukan percepatan gravitasi disuatu tempat percobaan diakukan.
3.    Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
               Adapun bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada tabel 3.5 di bawah ini,

Tabel 3.5 Tabel alat dan bahan pratikum bandul matematis
NO
Alat – alat
Bahan -bahan
1
Statif
Bandul
2
Penggaris

3
Busur

4
Tali


4.     Langkah-langkah Kerja
Adapun langkah-langkah kerja yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a.    Menyiapakan alat dan bahan praktikum yang diperlukan
b.    Mengukur tali 100 cm dengan menggunakan mistar
c.    Mengikat bandul dengan tali
d.   Menyimpangkan bandul sebesar 150  dengan menggunakan busur drajat.
e.    Menghitung ayunan sampai 15 kali pertama
f.     Mencatat waktu (s) untuk 15 ayunan.
g.    Mengulang langkah kerja ke 1-7 dengan menggunakan tali dengan panjang tali 90 cm, 80 cm, 70 cm, 60 cm.
h.    Mencatat hasil  penelitian dalam tabel pengamatan.

5.    Hasil Pengamatan
a.    Gambar hasil praktikum
Gambar
Keterangan
5
3
4
2
1
1. Statif
2. Bandul
3. Busur
4. Mistar
5. Tali
Gambar 3.2 Gambar hasil praktikum bandul matematis
b.    Data Hasil Praktikum
Tabel 3.6 Hasil pengamatan dan perhitungan bandul
NO.
Panjang tali (cm)
Osilasi (n)
Waktu (t)
Priode (T)
T2
G
1
100 cm
15
30
2
4
9,86
2
90 cm
15
28
1,9
3,61
9,83
3
80 cm
15
27
1,8
3,24
9,73
4
70 cm
15
25
1,7
2,89
9,55
5
60 cm
15
24
1,6
2,56
9,24

c.    Analisis data
1). Panjang tali 100 cm
T =
    =  
    = 2
T2 = 2.2
     = 4
g =
   =
    = 9,86 m/s2
2). Panjang tali 90 cm
T =
   =  
   = 1,9
T2 = 1,9 . 1,9
     = 3,61
g =
   =
    = 9,83 m/s2

3). Panjang tali 80 cm
T =
   =  
   = 1,8
T2 = 1,8 . 1,8
     = 3,24
g =
   =
    = 9,73 m/s2



4). Panjang tali 70 cm
T =
   =  
   = 1,7
T2 = 1,7 . 1,7
     = 2,89
g =
   =
    = 9,55 m/s2

5). Panjang tali 60 cm
T =
   =  
   = 1,6
T2 = 1,6 . 1,6
     = 2,56
g =
   =
    = 9,24 m/s2

6.     Pembahasan
Pada bandul matematis menggunakan tali yang tidak mempunyai massa, sebab kalau tali mempunyai massa maka bandul tidak bisa berosilasi. Maka oleh sebab itu bandul matematis menggunakan tali yang tidak mempunyai massa.
Hasil dari percobaan badul matematis tidak semua percobaan itu benar, bias diakibatkan karena tali tidak sama ukurannya atau bandul tidak berisolasi berketetapan deengan  waktu dan tempat percobaan dilakukan.
7.    Simpulan
Daripraktikum bandul matematis ini kita dapat mengetahui gravitasi pada tempat percobaan, dan mengetahui azas kerja bandul matematis.
C.  Hukum Hooke
1.    Pelaksanaan
a.    Hari, tanggal             :Ahad, 11 oktober 2015
b.    Waktu                       :10.53 – 11.10 WITA.
c.    Tempat                      :R. B. II. 3. Lantai 2 gedung B fakutas ilmu tarbiyah                                                  kampus II  IAIN mataram.
2.    Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum hokum hooke adalah sebagai berikut:
a.    Memahami konsep hokum hooked an elastisitas pegas.
b.    Menentukan konstanta pegas dengan metode osilasi dan pertambahan    panjang.
3.    Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
               Adapun bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada tabel 3.7 di bawah ini:

Tabel 3.7 Tabel alat dan bahan praktikum hukun hooke.
NO.
Alat – alat
Bahan – bahan
1
Pegas
Beban
2
Stopwact

3
Statif

4
Mistar


4.     Langkah-langkah Kerja
Adapun langkah-langkah kerja yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a.    Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang diperlukan.
b.    Memasaang rahang pengunci pada rahang statif kemudian memasangnya pada batang statif.
c.    Menggantungkan pegas pada rahang ststif dan mengukur panjang mula – mula pegas.
d.   Menggantungkan beban pada pegas dan mengukur perubahan panjang pada pegas.
e.    Mengukur langkah (d) dengan menambahkan gerak beban sebanyak 4 kali.
f.     Mengamati perubahan panjang terjadi pada pegas.
g.    Mencatat hasil pengamatan.

5.    Hasil Pengamatan
a.    Gambar hasil praktikum
Gambar
Keterangan
5
4
3
2
1
1. Statif
2. Pegas
3. Mistar
4. Stopwact
5. Beban
Gambar 3.3 Gambar hasil praktikum hukum hooke.



b.    Data hasil praktikum
Tabel 3.8 Tabel penambahan pegas pada konstanta pegas
NO
Massa (m) kg
X0
X1
Δx
Gaya (F) N
Konstanta (N/m)
1
0,05
0,16
0,215
0,055
0,5
0,9
2
0,06
0,16
0,24
0,08
0,6
7,5
3
0,07
0,16
0,245
0,085
0,7
82
4
0,08
0,16
0,27
0,11
0,8
7,2
5
0,09
0,16
0,28
0,12
0,9
7,5

Tabel 3.9 Tabel priode dan frekuensi osilasi pegas
NO.
Massa (m) kg
Waktu (t) s
Priode (T) s
Konstanta (k) N/m
Frekuensi (f) Hz
N
1
0,05
7
1,7
0,68
1,59
12
2
0,06
8
1,5
1,05
0,67
12
3
0,07
8,92
1,34
1,54
0,75
12
4
0,08
9,30
1,29
1,9
0,77
12
5
0,09
9,67
1,24
2,3
0,8
12

c.    Analisis data
Analisis data pada tabel 3.8
1). Massa benda 0,05 Kg
Δx = x1 – x0
     = 0, 215 – 0,16
     = 0,055 m
F   = m.g
     = 5.10-2 . 10
     = 5.10-1 N
K  =
     =
     = 0,9 N/m
2). Massa benda 0,06 Kg
Δx = x1 – x0
     = 0, 24 – 0,16
     = 0,08 m
F   = m.g
     = 6.10-2 . 10
     = 6.10-1 N
K  =
     =
     = 7,5 N/m
3). Massa benda 0,07 Kg
Δx = x1 – x0
     = 0, 245 – 0,16
     = 0,085 m
F   = m.g
     = 7.10-2 . 10
     = 7.10-1 N
K  =
     =
     = 0,0082 N/m
4). Massa benda 0,08 Kg
Δx = x1 – x0
     = 0, 27 – 0,16
     = 0,11 m
F   = m.g
     = 8.10-2 . 10
     = 8.10-1 N
K  =
     =
     = 7,2 N/m
5). Massa benda 0,09 Kg
Δx = x1– x0
     = 0, 28 – 0,16
     = 0,12 m
F   = m.g
     = 9.10-2 . 10
     = 9.10-1 N
K  =
     =
     = 7,5 N/m
Analisis data pada table 3.9
1). m =  0,05 Kg
T =
    =
    = 1,7 s
K=
   =
    = 68,23 . 10-2  N/m
F =
    =
    = 1,59 Hz
2). m =  0,06 Kg
T =
    =
    = 1,5 s
K=
   =
    = 105,17 . 10-2  N/m
F =
    =
    = 1,67 Hz
3). m =  0,07 Kg
T =
    =
    = 1,34 s
K=
   =
    = 154,23 . 10-2  N/m
F =
    =
    = 0,75 Hz
4). m =  0,08 Kg
T =
    =
    = 1,29 s
K=
   =
    = 190,0 . 10-2  N/m
F =
    =
    = 0,77 Hz
5). m =  0,09 Kg
T =
    =
    = 1,24 s
K=
   =
    = 230,49 . 10-2  N/m
F =
    =
    = 0,8 Hz

6.     Pembahasan
Dari pecobaan hukum hooke terlihat pada table 3.8 bahwa gaya dan pertambahan panjang paling besar tejadi pada beban 0,09 Kg yaitu 0,9 N dan 0,12 m sedangkan kostanta paling besar terjadi pada beban 0,07 Kg yaitu 8,2 N/m. Untuk gaya, pertambahan panjang dan konstanta paling kecil terjadi pada pembebanan 0,05 Kg yaitu 0,5 N dan 0,055 m dan 0,9 N/m. Dari data tersebut terlihat bahwa konstanta pegas tidak akan selalu sama dikarenakan oleh beberapa factor seperti pada saat penggantungan, hembusan angin sehingga pegas terus bergerak, disebabkan juga karena pada saat menyempangkan beban tidak lurus dan pada saat melepaskan beban dan stopwatch tidak tepat.
Pada percobaan dengan mencari nilai periode dan frekunsi osilasi pegas.kami memiliki masa yang berbeda-beda dengan urutan massa yang digunakan adalah 50 kg,60 kg,70 kg,80 kg,dan 90 kg,dengan gerakkan osilasi yang sama yaitu 12 n,dalam mencari periode,konstanta pegas dan frekuensi yang dimana saya mendapatkan hasil frekuensi pertama yaitu  5.10-1 N, serta konstanta yang di dapatkan adalah 0,9 N/m,dimana rumus yang digunakan tersebut untuk mencari frekuensi adalah F= m.g,serta rumus yang digunakan untuk mencari konstanta ialah   k=F/ ,dan begitun cara seterusnya untuk mencari hasil untuk frekuensi dan konstanta[19].
7.      Simpulan
Dari praktikum hokum hooke dapt disimpulkan bahwa gaya yang dikerjakan pada pegas berbanding lurus dengan pertambahan panjang pegas. Semakin besar penambahan beban semakin besar pula gaya yang dilakukan dan banyak waktu osilasinya.

D.  Hambatan dalam Baterai
1.    Pelaksanaan
a.    Hari, tanggal             :Ahad, 11 oktober 2015
b.    Waktu                       :08.37 – 08.45 WITA.
c.    Tempat                      :R. B. II. 4. Lantai 2 gedung B fakultas tarbiyah                                             kampus II. IAIN mataram.
2.    Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum hambatan dalam baterai yaitu: Untuk menentukan besarnya tegangan dalam pada suatu baterai menggunakan persamaan tegangan jepit.








3.    Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada tabel 3.10 di bawah ini:
Tabel 3.10 Tabel alat dan bahan pada praktikum hambatan dalam baterai
NO.
Alat-alat
Bahan-bahan
1
Kabel penghubung
Baterai
2
Ampere meter

3
Volt meter


4.     Langkah-langkah Kerja
Adapun langkah-langkah kerja yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a.    Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang diperlukan.
b.    Menghubungkan kabel multimeter warna hitam kedalam lubang com multimeter digital.
c.    Menghubungkan kabel multimeter warna merah ke dalam lubang tegangan dan lubang kuat arus pada multimeter digital.
d.   Memutar petunjuk multimeter ke posisi 20volt dan posisi 20 A sebanyak 3 kali percobaan .
e.    Menghubungkan ujung kabel ke dalam baterai sebanyak 3 kali percobaan.
f.     Mengamati dan mencatat hasil pengamatan.







5.    asil Pengamatan
a.    Gambar hasil praktikum
Gambar
Keterangan Gambar
1
3
2
1. Multimeter digital
2. kabel penghubung
3. Baterai
Gambar 3.4 Gambar hasil praktikum hambatan dalam baterai.
b.    Data hasil praktikum
Tabel 3.11 Tabel pada satu baterai
NO.
Sumber tegangan
E (Volt)
I (mA)
V (volt)
R (ohm)
1
Baterai
1,7 V
1,38 A
1,51 V
0,137 Ω
2
Baterai
1,7 V
1,36 A
1,51 V
0,139 Ω
3
Baterai
1,7 V
1,35 A
1,51 V
0,14 Ω
Rata-rata
1,7 V
1,36 A
1,51 V
0,138 Ω

Tabel 3.12 Tabel  pada dua baterai
NO.
Sumber tegangan
E (Volt)
I (mA)
V (volt)
R (ohm)
1
Baterai
3,4 V
2,13 A
3,01 V
0,183 Ω
2
Baterai
3,4 V
2,11 A
3,02 V
0,180 Ω
3
Baterai
3,4 V
2,09 A
3,02 V
0,181 Ω
Rata-rata
3,4 V
2,11 A
3,01 V
0,181 Ω


c.     Analisis data
Analisis pada satu baterai
1)   Percobaan pertama
r =
   =
   =
   = 0,137 Ω

2). Percobaan kedua
r =
   =
   =
   = 0,139 Ω
3). Percobaan ketiga
r =
   =
   =
   = 0,14 Ω

Analisis rata-rata pada satu baterai
1). Rata-rata sumber tegangan
X =
    =
    =
    = 1,7 V
2). Rata-rata kuat arus
X =
    =
    =
    = 1,36 A
3). Rata-rata tegangan dalam
X =
    =
    =
    = 1,51 V
4). Rata-rata hambatan dalam
X =
    =
    =
    = 0,138 Ω
 Analisis data pada dua baterai
1). Percobaan pertama
r =
   =
   =
  = 0,183 Ω
2). Percobaan kedua
r =
   =
   =
  = 0,180 Ω
3). Percobaan pertama
r =
   =
   =
  = 0,181 Ω
Rata-rata pada dua baterai
1). Rata-rata sumber tegangan
X =
    =
    =
    = 3,4 V
2). Rata-rata kuat arus
X =
    =
    =
    = 2,11 A
3). Rata-rata tegangan dalam
X =
    =
    =
    = 3,01 V
4). Rata-rata hambatan dalam
X =
    =
    =
    = 0,181 Ω
6.    Pembahasan
Hambatan dalam baterai adalah suatu hambatan yang dimiliki dan memang berada di dalam baterai itu sendiri. Hambatan dalam baterai  juga merupakan suatu halangan yang selalu ada untuk muatan yang mengalir bebas di dalam elektrolit antara elektroda-elektroda baterai.
Ketika arus ditarik dari baterai, tegangan antara terminal positif dan negative turun dari ggl nya atau menjadi tidak konstan. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia pada baterai yang tidak dapat memasok  muatan  dengan cukup cepat. Untuk mempertahankan ggl penuh,  muatan –muatan yang mengalir bebas selalu mengalami hambatan. Artinya, dalam baterai itu sendiri terdapat hambatan yang disebut hambatan dalam baterai. Oleh karena itu, baterai sebenarnya dapat dianggap sebagai sebuah baterai ideal dengan ggl yang disusun seri terhadap hambatan. Vab adalah tegangan jepit, yang juga merupakan tegangan luar iR.
Ggl atau gaya gerak listrik berarti beda potensial antara terminal sumber, bila tidak ada arus yang mengalir ke rangkaian luar. Istilah ggl sebenarnya tidak cocok dalam hal kelistrikan ini karena dalam listrik tidak mempunyai stuan newton sehingga orang-orang sering menyebutnya ggl saja.
Rangkaian terbuka adalah suatu rangkaian listrik yang memiliki ujung-ujungrangkaian. Rangkaian tertutup adalah suatu rangkaian listrik yang tidak memiliki ujung rangkaian, arus listrik (I) , terus mengalir hingga tegangan (V) habis.
Arus listrik dalam sebuah rangkaian tidak dapat mengalir melalui rangkaian terbuka, maupun secara internal di dalam sebuah baterai sekalipun. Arus listrik hanya dapat mengalir pada suatu loop tertutup yang di dalamnya terdapat sebuah sumber tegangan. Arus listrik akan mengalir melalui kawat penghantar, beban (hambatan pada rangkaian), dan hambatan yang ada dalam baterai itu sendiri.[20]
7.    Simpulan
Dari praktikum hambatan dalam baterai ini dapat di simpulktan tegangan dalam baterai dapat ditentukan dengan mencari sumber tegangan, kuat arus dan tegangan luar pada baterai.

E.  Multimeter
1.    Pelaksanaan
Hari, tanggal      :Ahad, 25 Oktober 2015
Waktu                :10.15 – 10.34 WITA
Tempat               :R. B.  II. Gedung B Lantai 2 Fakuultas Tarbiyah                                                       IAIN Mataram
2.    Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum hambatan dalam baterai sebagai berikut:
a.    Memahami jenis - jenis multimeter
b.    Memahami penggunaan multimeter.
3.    Alat-alat dan Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini disajikan pada tabel 3.13 di bawah ini.
Tabel 3.13 Tabel alat dan bahan pada praktikum multimeter
NO
Alat-alat
Bahan-bahan
1
Multimeter
Resistor
2
Papan rangkaian

3
Kabel penghubung

4
Sumber tegangan

4.     Langkah-langkah Kerja
Adapun langkah-langkah kerja yang dikerjakan dalam praktikum ini disajikan di bawah ini,
a.    Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang diperlukan
b.    Menentukan warna dari resistor pertama
c.    Menghitung resistor secara manual
d.   Mengukur nilai resistor dengan menggunakan ressistir
e.    Menghubungkan dua kabel penghubung yang telah dihubungkan dengan multimeter pada masing-masing ujung resistor.
f.     Memperlakukan resistor kedua dan ketiga sama dengan resistor pertama dalam menentukan nilai dari ketiga resistor.
g.    Mencatat hasil pengamatan pada tabel  pengamatan.
5.    Hasil Pengamatan
a.    Gambar hasi praktikum
Gambar
Keterangan  Gambbar
2
4
3
1
1. Papan rangkaian
2. Resistor
3. Kabel penghubung
4. Multimeter digital
Gambar 3.5 Gambar hasil praktikum penggunaan multimeter
b.    Data hasil praktikum
Tabel 3.14  Tabel identitas multimeter
Jenis mutimeter
Merk
Type
Fungsi-fungsi pilihan
Batas ukur
minimal
Maximal
Multimeter digital
Alda
Dt830B
Hambatan(Ω)
200 Ω
2000 Ω
Tegangan(volt)
200 V
1000 V
Kuat arus (µA)
200 µA
2000 µA

Tabel 3.15 Tabel pembaca nilai hambatan secara teoritis
NO.
Kode warna
Nilai Hambatan
Ralat
1
Cokelar_abu-abu_hitam_emas
18 ± 5%
27,7 %
2
Cokelat_hijau_hitam_emas
15 ± 5%
33,3 %
3
Cokeat_hitam_hitam_emas
10 ± 5%
50 %



Tabel 3.16 Tabel multimeter sebagai ohmmeter
Multimeter Digital
Nilai tertampil
Batas ukur
Skala terkecil
12,7 Ω
200 – 2000 Ω
200 Ω
17,0 Ω
200 – 1000 V
200 V
11,8 Ω
200 – 2000 µA
200 µA

c.     Analisis data
1). Resistor pertama
R  = cokelat _ abu-abu _ hitam _ emas
      = (18 . 100) ± 5%
      = (18 . 1) ± 5%
      = 18 ± 5%
Rr =  x 100%
     =  x 100%
            = 27,7 %
2). Resistor kedua
R  = cokelat _ hijau _ hitam _ emas
      = (15 . 100) ± 5%
      = (15 . 1) ± 5%
      = 15 ± 5%
Rr =  x 100%
     =  x 100%
     = 33,3 %
3). Resistor ketiga
R  = cokelat _ hitam _ hitam _ emas
      = (10 . 100) ± 5%
      = (10 . 1) ± 5%
      = 10 ± 5%
Rr =  x 100%
     =  x 100%
            = 50 %

6.     Pembahasan
Multimeter adalah suatu alat perhitungan yang berfungsi untuk mengukur tegangan, hambatan dan kuat arus serta untuk mengetahui baik atau tidaknya suatun komponen tertentu. Dan pada praktikum kali ini kita menggunakan multimeter digital untuk menentukan nilai hambatan dan nilai ralat pada suatu resistor. Dimana  resistor adalah terminal dua komponen elektronik yang menghasilkan tegangan pada terminal yang sebanding dengan arus listrik. Komponen resistor  termasuk komponen pasif yaitu komponen yang bekerja tanpa memerlukan arus pijar. Pada komponen resistor biasanya terdapat 4 warna. 3 warna sebagai nilai dan 1 warna sebagai toleransi.
Pada praktikum kali ini kita menggunakan resistor pertama dengan warna coklat_ abu-abu_ hitam_emas dengan nilai tertampil 12,7 Ω dengan hasil nilai hambatan 18 ± 5% dan nilai dan nilai ralat 27,7 %, pada resistor kedua dengan warna cokelat_hijau_hitam_emas dengan nilai tertampil 17,0 Ω, hasil nilai hambatannya 15 ± 5 % dan nilai ralat 33,3 %. dan pada resistor ketiga warna cokelat_hitam_hitam_emas denan nilai tertampil  11,8 Ω, hasil nilai hambatannya 10 ± 5 % dan nilai ralatnya 50 %. Dalam menghitung hambatan resistor kita dapat menghitungnya secara manual atau dapat menggunakan multimeter.
  Dari percobaan tersebut hasilnya akan berbeda antara menghitung secara manual dan menghitung  dengan  multimeter . Perbedaan tersebut dikarenakan dalam menghitung tegangan resistor menggunakan multimeter kurang teliti, bisa saja pada saat penulisan angka hasil percobaan tidak tepat karena angka yang menunjukkan nilai tegangan resistor masih belum diam[21].
7.    Simpulan
Dari praktikum penggunaan  multimeter dapat kita ambil simpulan bahwa jenis-jenis multimuter yaitu: multimeter digital dan multimeter analog.Dan kita jug adapt mengetahui penggunaan multimeter sebagai alat untuk mengukur tegangan, hambatan dan kuat arus.






















BAB IV
PENUTUP

A.      Kesimpulan
               Berdasarkan praktikum ynagtelah dilakukan dapat di simpulkan bahwa:
1.    Pengukuran
             Dengan melakukan praktikum ini kita dapat melakukan pengukuran pada benda-benda yang berdimensi kecil dengan menggunakan alat yang memiliki keteitian tinggi seperti jangka sorong dan mikrometre sekrup. Dan juga kita dapat mengetahui bagaimana cara membaca skala dalam penggunaannya serta dapat mengetahui ukuran dari benda kita ukur.
2.    Bandul matematis
                        Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat dimpulkan bahwa, Secara umum azas kerja ayunan bandul matematis berawal dari gerak osilasi. Gerak osilasi adalah gerak sebuah bandul apabila disimpangkan sejauh (  ) kemudian dilepaskan lama-kelamaan akan kembali ke keadaan semula atau setimbang. Selain itu, pada tempat percobaan dilakukan memiliki gaya gravitasi yang berbeda sehingga menghasilkan nilai yang berbeda pula.
3.    Hukum hooke
                        Dalam percobaan hokum hooke bedasarkan tujuan dapat disimpulkan bahwa gaya yang dikerjakan pada pegas berbanding lurus dengan pertambahan panjang pegas. Hal ini terjadi karena  penambahan beban yang mengakibatkan bertambahnya gaya dan  waktu osilasi.
4.    Hambatan dalam baterai
                        Untuk pecobaan hambatan dalam baterai dapat disimpulkan bahwa tegangan dalam baterai dapat ditentukan dengan mencari sumber tegangan, kuat arus dan tengan luar pada baterai. Hambatan dalam baterai adalah suatu hambatan yang dimiliki dan memang berada di dalam baterai itu sendiri.dan dapat menentukan besar tegangan dalam baterai dengan menggunakan sumber tegangan jepit
5.    Pengunaan multimeter
Jenis-jenis multimeter ada dua, yaitu multimeter analog dan multimeter digital. Multimeter analog adalah nilai ukurnya ditunjukan oleh sebuah jarum penunjuk yang digerakan oleh sebuah kumparan putar, yaitu kumparan yang ditempatkan di dalam medan magnet sehingga dapat berputar ketika dialiri kuat arus. Mulltimeter digital merupakan multimeter yang nilai ukurnya ditunjukkan secara langsung berupa angka-angka digital melalui sevent segment dispay tertentu, nilai-nilai ini dihasilkan oleh sebuah ADC (Analg to Digital Converted) yaitu piranti pengubah sinyal analaog menjadi digital.
B.            Kritik dan Saran
                    Dalam melakukan peraktikum sebaiknya dilakukan dengan teliti dan cermat agar hasil praktikum sesuai dengan yang diinginkan. Bagi Co Asisten sebelum menyampaikan materi sebaiknya terlebih dahulu melalukan diskusi terhadap persamaan yang akan digunakan agar peserta tidak ragu dengan persmaan yang akan digunakan. Untuk bapak pengelola laboraturium untuk alat-alatnya udah baik,namun alangkah baiknya jika alat-alat yang di sediakan lebih banyak lagi,agar kami tidak capek menunggu pada saat praktek.




           





DAFTAR PUSTAKA

Arisworo, D.  dkk. 2006. Fisika Dasar . Jakarta. Grafindo Media Pratama.
Bahtiar. 2010. Fisika Dasar 1. Mataram. Kurnia Kalam Semesta.
Bahtiar, dkk. 2013. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Mataram. IAIN  Mataram.

Giancoli. 2001. FISIKA edisi 5 jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Depdiknas. 2006. Pengembangan Bahan Ajar. http://www.jardiknas.org. diakses pada tanggal 5 November 2015.  pukul 12.30 WITA

Giancolli. 2000. Fisiska Jilid 2. Jakarta. Erlangga
Gianti Aby Sarojo, G, A,. 2002. Seri Fisika. Jakarta. Salemba Teknik
Siswanto. 2005. Kompetensi Fisika. Jakarta. Pusat Pembukuan
Sustrisno. 2001. Fisika Dasar. Bandung. ITB.
Young dan Freedman. 2002.  Fisika Universitas. Jakarta.  Airlangga.

 








LAMPIRAN





Gambar lampiran 1  praktikum pengukuran

 
Gambar lampiran 2 praktikum hambatan dalam pada baterai

 
Gambar lampiran 3 praktikum hokum hooke
Gambar lampiran praktikum 4 penggunaan multimeter


Gambar lampiran 5 praktikum bandul matematis


[1] Depdiknas, Pengembangan Bahan Ajar ,  http://www.jardiknas.org. diakses      pada tanggal 5 November 2015.  pukul 12.30 WITA
[2] Bahtiar, Fisika Dasar 1 (Mataram: Kurnia Kalam Semesta, 2010), h. 13.
[3] Djoko Arisworo, dkk, Fisika Dasa (Jakarta: Grafindo Media Pratama, 2006),  h. 15.
[4] Siswanto, Kompetensi Fisika (Jakarta: Pusat Pembukuan,  2005), h.  9.
[5] Ibid., h. 10.
[6] Gianti Aby Sarojo, Seri Fisika (Jakarta: Salemba Teknik, 2002),  h. 184.
[7] Ibid., 218.
[8] Sustrisno, Fisika Dasar (Bandung: ITB, 2001),  h. 79.
[9] Bahtiar, op., cit., h. 220.
[10] Sustrisno, Ibid,.. 80.
[11] Ibid,. 210.
[12] Bahtiar, dkk, Petunjuk Praktikum Fisika Dasar (Mataram: Laboratorium Fisika Dasar Fakultas Tarbiyah IAIN  Mataram, 2013), h. 13.
[13] Young & Freedman, Fisika Universitas (Jakarta: Airlangga, 2002), h. 335.
[14] Ibid,. 48.
[15] Giancolli, Fisiska Jilid 2 (Jakarta: Erlangga, 2000), h. 67.
[16] Giancoli. FISIKA edisi 5 jilid 2. ( Jakarta : Erlangga. 2001) hal 116-119
[17] Depdiknas. 2006. Pengembangan Bahan Ajar. http://www.jardiknas.org. diakses pada tanggal 5 November 2015.  pukul 12.30 WITA

[18] Young dan Freedman. Fisika Universitas (Jakarta: Airlangga. 2002),h. 35-37
[19] Siswanto. Kompetensi Fisika (Jakarta:  Pusat Pembukuan. 2005) h. 66
[20] Giancolli. Fisiska Jilid 2 (Jakarta : Erlangga. 2000). H. 20
[21] Young dan Freedman. Fisika Universitas (. Jakarta: Airlangga. 2002). h. 65

Tidak ada komentar:

Posting Komentar