Jumat, 15 April 2016

HADIST



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Takhrij Hadist merupakan langkah awal dalam kegiatan penelitian hadist. Pada masa awal penelitian hadist telah dilakukan oleh para ulama salaf yang kemudian hasilnya telah dikodifikasikan dalam berbagai buku hadist. Mengetahui masalah tahrij dan metodenya adalah sesuatu yang sangat penting bagi orang yang mempelajari ilmu-ilmu syar’i agar mampu melacak suatu hadist sampai pada sumbernya. Kebutuhan tahrij adalah perlu sekali, karena orang yang mempelajari ilmu tidak akan dapat membuktikan (menguatkan) dengan suatu hadist atau tidak dapat meriwayatkannya, kecuali setelah ulama-ulama yang telah meriwayatkan hadist dalam kitabnya dengan dilengkapi sanadnya, karena itu, masalah takhrij ini sangat dibutuhkan setiap orang yang membahas atau menekuni ilmu-ilmu syar‟i dan yang sehubungan dengannya. Sehingga untuk lebih jelasnya tentang takhrij hadits ini akan dibahas dalam bab selanjutnya.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan takhrij?
2.      Bagaimana sejarah perkembangan ilmu takhrij hadist?
3.      Apa metode dalam takhrij hadist?
4.      Apa fungsi ilmu takhrij hadist?
C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian takhrij.
2.      Untuk mengetahui sejarah perkembangan takhrij.
3.      Untuk mengetahui metode takhrij hadist.
4.      Untuk mengetahui fungsi ilmu takhrij hadist.



BAB III
PEMBAHASAN
A.      Pengetian Takhrij Hadist
Kata takhrij (تخريج ) adalah bentuk mashdar dari (خرّج-يخرّج-تخريجا ) yang secara bahasa berarti menampakkan sesuatu dari tempatnya.
Sedang pengertian takhrij al-hadits menurut istilah ada beberapa pengertian, di antaranya ialah:
1.      Suatu keterangan bahwa hadis yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya. Misalnya: Penyusun hadist mengahiri penulisan hadisnya dengan kata-kata akhrajahul Bukhari artinya bahwa hadist yang dinukilkan itu terdapat dalam kitab jami’us saheh bukhari. Bila dia mengahirinya dengan kata akhrajahul muslim berarti hadist tersebut terdapat dalam kitab sakhih Muslim.
2.      Suatu usaha mencari derajat, sanad, dan rawi hadits yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab.
3.      Mengemukakan hadits berdasarkan sumbernya atau berbagai sumber dengan mengikut sertakan metode periwayatannya dan kualitas haditsnya.
4.      Mengemukakan letak asal hadits pada sumbernya yang asli secara lengkap dengan matarantai sanad masing-masing dan dijelaskan kualitas hadits yang bersangkutan.
Dari sekian banyak pengertian takhrij diatas, yang dimaksud takhrij dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian hadist lebih lanjut. Maka takhrij berarti penelusuran atau pencarian hadist pada berbagai kitab-kitab koleksi hadist sebagai sumber asli dari hadist yang bersangkutan, yang di dalam sumber tersebut dikemukakan secara lengkap matan dan matarantai sanad yang bersangkutan.
B.       Sejarah Perkembangan Takhrij Hadist
Pada mulanya, menurut Al-Thahan, ilmu takhrij al-hadits tidak  dibutuhkan oleh para ulama dan peneliti hadits karena pengetahuan mereka tentang sumber hadits ketika itu sangat luas dan baik. Hubungan mereka dengan sumber hadits juga kuat sekali, sehingga apabila mereka dapat menjelaskan sumber hadits tersebut dalam berbagai kitab hadits, yang metode dan cara-cara penulisan kitab-kitab hadits tersebut mereka ketahui. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka dengan mudah dapat menggunakan dan mencari sumber dalam rangka mentakhrij hadits. Bahkan, apabila dihadapan seorang sumber ahlinya, ulama tersebut dengan mudah dapat menjelaskan sumber aslinya.
Ketika para ulama mulai merasa kesulitan untuk mengetahui  sumber dari suatu hadits, yaitu setelah berjalan beberapa periode tertentu dan setelah berkembangnya karya-karya ulama dalam bidang fikih, tafsir dan sejarah, yang membuat hadits-hadits Nabi SAW. Yang kadang-kadang tidak menyebutkan sumbernya,  maka ulama hadits terdorong untuk melakukan takhrij terhadap karya-karya tersebut. Pada saat itu, muncullah kitab-kitab takhrij, yang pertama muncul adalah karya Al-Khathib al-Baghdadi (w.463 H), namun yang terkenal adalah Takhrij al-Fawa’id al-Muntakhabah wa al-Ghara’ib karya Syarif Abi al-Qasim al-Husaini, Takhrij al-Fawa’id al-Muntakhabah wa al-Ghara’ib karya Abi al-Qasim al-Muhammad Ibn Musa al-Hazimi al-Syafi’I (w.584 H). Kitab Al-muhdzdzab sendiri adalah kitab fikih mazhab Syafi’I yang disusun oleh Abu Ishaq al-Syirazi.
Kitab-kitab induk hadits yang ada, mempunyai susunan tertentu dan berada antara yang satu dan yang lainnya, yang hal ini menemukan cara tertentu secara ilmiah agar penelitian dan pencarian haditsnya dilakukan dengan mudah. Cara praktis dan ilmiah inilah yang merupakan kajian pokok ilmu takhrij.
Menurut Mahdi, ilmu takhrij pada awalnya adalah berupa tuturan yang belum tertulis. Hal ini dimaksudkannya sebelum munculnya kitab-kitab takhrij seperti Takhrij, al-Fawa’id al-Muntakhabah karya Abu Qasim al-Husayni, Takhrij Al-Hadis Al-muhdzdzab karangan Muhammad ibn Musa al-Hazimi al-Syafi’I, seperti yang telah disebutkan tadi.


C.       Metode Takhrij
Karena banyaknya teknik dalam pengodifikasian buku hadis, sangat diperlukan beberapa metode takhrij yang sesuai dengan teknik buku hadist yang ingin diteliti. Paling tidak ada 4 metode takhrij dalam arti penelusuran hadis dari sumber buku hadis, Mari diuraikan satu persatu kemudian dipraktikkan diperpustakaan.
1.    takhrij dengan Kata ( Bi Al-Lafzhi)
Pada metode ini takhrij pertama ini, penelusuran hadist melalui kata/lafal matan hadis, baik dari permulaan, pertengahan dan ahiran. Kamus yang diperlukan metode ini salah satunya yang paling mudah ialah Kamus Al-mu’jam Al- mufakhras li Alfazh Al hadis An-nabawi yang disusun A.J. Wensinck dan kawan-kawannya sebanyak 8 jilid.
Maksud takhrij dengan kata adalah takhrij dengan kata benda(kalimah isim) atau kata kerja (kalimah fi’il), bukan kata sambung (kalimah huruf)dalam bahasa arab yang mempunyai asal akar kata 3 huruf. Kata itu diambil dari salah satu bagian dari teks hadist yang mana saja selain kata sambung/kalimah huruf, kemudian dicari asal  kata dalam bahasa arab yang hanya 3 huruf yang disebut dengan fi’il tsulatsi. Jika kata dalam teks hadist yang dicari kata  مسلم misalnya, maka harus dicari asal akar katanya, yaitu kata: سلم setelah itu membuka kamus bab س bukan bab م. Demikian juga kata yang dicari kata : يلتمس maka akar katanya adalah: لمس kamus yang dibuka adalah pada bab ل bukan bab ي, dan begitu seterusnya.
2.    Takhrij dengan tema( Bi Al- Mawdhu’)
Arti takhrij kedua ini adalah penelusuran hadis yang didasarkan pada topik (mawdhu’), misalnya bab Al-Khatam, Akhadim, Alghusl, Adh-Dhahiyah, dan lain-lain. Seorang peneliti hendaknya sudah mengetahui topik suatu hadist kemudian ditelusuri melalui kamus hadis tematik. Salah satu kamus hadis tematik adalah Miftah min Kunuz As-sunnah oleh Dr. Fuad Abdul Baqi, terjemahan aslinya berbahasa inggris A Handbook of early Muhammad Karya A.J. Wensink pula. Dalam kamus hadis ini dikemukakan berbagai topik, baik yang berkenaan dengan petunjuk-petunjuk  Rasulullah maupun berkaitan dengan nama. Untuk setiap topik biasanya disertakan subtopik dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadist dan kitab yang menjelaskannya.
Kitab-kitab yang menjadi referensi Kamus Miftah tersebut sebanyak 14 kitab, lebih banyak dari takhrij bi al-lafzhi diatas, yaitu 8 kitab sebagaimana diatas ditambah 6 kitab ini. Masing-masing diberi singkatan yang spesifik, yaitu sebgai berikut:
a.    Shahih Bkhari dengan lambang : بخ
b.    Shahih Muslim dengan lambang: مس
c.    Sunan Abu Dawud dengan lambang : بد
d.   Sunan An-Nasa’I dengan lambang: نس
e.    Sunan Ibnu Majah dengan lambang: مج
Kemudian arti singkatan-singkatan lain yang dipakai dalam kamus ini adalah sebagai berikut:
a.    Kitab= ك
b.    Hadis= ح
c.    Juz= ج
d.   Andingan (Qobil)= قا
e.    Bab= ب
f.     Shahifah= ص
g.    Again(qismun)= ق
Contoh:
صلا ة الليل مثنى مثنى
3.    Takhrij dengan permulaan Matan (Bi Awwal Al- Matan)
Takhrij menggunakan permulaan matan dari segi hurufnya, misalnya awal suatu matan dimulai dengan huruf mim maka dicari pada bab mim, jika diawali dengan huruf ba maka dicari pada bab ba, dan seterusnya.Takhrij seperti ini di antaranya dengan menggunkan kitab Al-jami’ Ash-Shaghirj atau Al-jami’ Al-Kabir karangan As-Suyuti dan Mu’jam Jami’ Al-Ushul fi Ahadist Ar-Rasul, karya Ibnu Al-Atsir.

4.         Takhrij melalui perawi yang paling atas ( Bi Ar- Rawi Al-A’la)
Takhrij ini menelusuri hadis melalui perawi yang paling atas dalam sanad, yaitu kalangan sahabat( Muttashil isnad) atau tabi’in (dalam hadis mursal). Artinya, peneliti harus mengetahui terlebih dahulu siapa sanad-nya di kalangan sahabat dan tabi’in, kemudian dicari dalam buku hadist Musnad atau A-Atharaf. Diantara kitab yang digunakan dalam metode ini adalah kitab Musnad atau Athraf karyaAl-Mizzi, dan lain-lain. Kitab musnad adalah pengodifikasian hadis yang sistematikannya didasarkan pada nama-nama sahabat atau nama-nama tabi’in sesuai dengan urutan sifat tertentu. Adapaun Al-Athraf adalah kitab hadis yang menghimpun beberapa hadisnya para sahabat atau tabi’in sesuai urutan alphabet arab dengan menyebutkan sebagian dari lafal.

D.      Faedah dan Manfaat Ilmu Takhrij Hadist
Faedah dan mamfaat takhrij cukup banyak, di antaranya yang dapat dipetik oleh yang melakukannya adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui referensi beberapa buku hadist. Dengan takhrij, seseorang dapat mengetahui siapa perawi suatu hadist yang diteliti dan didalam kitab hadis apa saja hadis tersebut didapatkan.
2.      Menghimpun sejumlah sanad hadis. Dengan takhrij, seseorang dapat menemukan sebuah hadist yang akan diteliti disebuah atau beberapa buku induk hadist. Misalnya terkadang di beberapa tempat di dalam kitab A-Bukhari saja, atau di dalam kitab-kitab lain. Dengan demikian, ia akan menghimpun sejumlah sanad.





















BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
yang dimaksud takhrij dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian hadist lebih lanjut. Maka takhrij berarti penelusuran atau pencarian hadist pada berbagai kitab-kitab koleksi hadist sebagai sumber asli dari hadist yang bersangkutan, yang di dalam sumber tersebut dikemukakan secara lengkap matan dan matarantai sanad yang bersangkutan.
Metode takhrij adalah sebagai berikut:
1.         takhrij dengan Kata ( Bi Al-Lafzhi)
2.         Takhrij dengan tema( Bi Al- Mawdhu’)
3.         Takhrij dengan permulaan Matan (Bi Awwal Al- Matan)
Tujuan takhrij hadist sebagai berikut:
1.         Mengetahui referensi beberapa buku hadist.
2.         Menghimpun sejumlah sanad hadis.














DAFTAR PUSTAKA

Khon, Abdul Majid. 2013. Ulumul Hadis. Jakarta:Amzah.
Sahrani, Sohari. 2010. Ulumul Hadis. Bogor: Ghalia Indonesia.
Mudasir. 1999. Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar